07 September 2014

Kisah Kyai Hasyim Asy'ari Dan Kyai Kholil Bangkalan Madura

KHM. HASYIM ASY'ARI Pendiri sebuah organisasi keagamaan (Nahdlatul Ulama), yang memiliki jumlah anggota terbesar, di seantero dunia Islam. Seorang ulama besar tanah air, yang teguh dengan ketinggian ilmu dan kemulian ahlak beliau. Mari kita sama-sama simak artikel berikut ini, semoga bisa bisa sedikit mengobati rasa kerinduan anda akan sosok ulama yang yang sekarang sangat sulit dicari penggantinya.

Tebuireng 1923. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan gurunya. Beliau Mbah Kyai Kholil sendiri banyak ulama yang menyatakan bahwa jika beliau ini Qutubnya tanah Jawa setelah Wali Songo.

KH Muhammad Kholil  : “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Kyai Kholil

Kyai Hasyim Asy’ari :  “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”

KH Muhammad Kholil  : Tanpa merasa tersanjung, Mbah Kyai Kholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati ini sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” Ucap beliau.

Karena sudah faham dengan watak gurunya yang memiliki semangat dan keinginan yang sangat kuat, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri. Kejadian yang sangat menarik, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, demi untuk memasangkan sandal tersebut ke kaki gurunya. Allahu Akbar sungguh luar biasa dan mulia Ahlak mereka berdua ini, keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita.

Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar, pandai dan lebih alim  ketimbang gurunya. Tetapi persoalanya bukan karena itu tetapi karena ilmu itu bersumber dari Allah melalui perantara Rasulullah dan terus sampai kepada para ulama selaku pewaris ilmu para nabi, makanya tidak ada bedanya (tidak memandang) apakah ilmu tersebut dari murid, dari guru ataupun dari ulama yang lain jika itu sama-sama sumber utamanya dari Allah yang Haq terus ke Rasulullah  dan itu haq maka wajib di pelajari.

Mbah Kyai Kholil sendiri jauh-jauh dari Bangkalan – Madura datang ke Tebuireng itu juga tidak serta merta hanya sekedar ingin berguru kepada muridnya, tetapi Mbah Kyai Kholil melakukan hal tersebut  itu pastinya karena adanya petunjuk dari Allah, dan adanya suatu rahasia di balik itu. Dan Allah dan para kekasaihNya yang banyak tahu.

Mbah Kholil adalah kyai yang sangat mashur baik pada jamannya hingga saat ini, bayak yang mengatakan sebagai wali qutub. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada beliau, dan banyak diantara murid-murid beliau ini menjadi ulama besar dan juga mencapai derajat Auliya.

Sedangkan Kyai Hasyim sendiri juga seorang ulama yang sangat bersinar terang, karena ketinggian ilmunya dan juga terkenal dengan resolusi jihadnya untuk melawan penjajah. Beliau juga pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU (Beliau satu-satunya yang memakai gelar Roisul Akbar di NU), beliau punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama. Para ulama memberikan beliau gelar dengan sebutan “Hadratus Syaikh” yang artinya Tuan Guru.

DOA ANAS BIN MALIK RA

اللَّهُمَّ عَبْدُك رُدَّ عَلَيْك، فَارْأَفْ بِهِ وَارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ جَافِ الأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ وَافْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ، وَتَقَبَّلْهُ مِنْك بِقَبُولٍ حَسَنٍ، اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَضَاعِفْ لَهُ فِي إحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَن سَيِّئَاتِهِ.

Artinya : “Ya Allah, hamba-Mu ini telah dikembalikan kepada-Mu, maka kasihilah ia dan rahmatilah ia, Ya Allah  jauhkanlah bumi dari sisinya, dan bukakanlah pintu-pintu langit untuk ruhnya, dan terimalah ia di sisi-Mu dengan penerimaan yang baik. Ya Allah  jika ia melakukan kebaikan maka lipat gandakanlah kebaikannya, dan jika ia melakukan keburukan maka abaikanlah keburukannya". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah].
*Mohon maaf disini admin tidak menggunakan dhomir “huma” sebagai kata ganti untuk dua orang

BUKTI CINTA SEJATI
Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya : “Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu : 1. memilih kalam kekasihnya (Al-Qur’an) daripada kalam lain-Nya (hasil produk manusia); 2. memilih bergaul dengan kekasih-Nya daripada bergaul dengan yang lain; 3. memilih keridhaan kekasih-Nya daripada keridhaan yang lain.” Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, ia menjadi hambanya.

Yahya bin Mu’adz sehubungan dengan pengertian ini telah mengatakan : “Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.” _(Kekasihnya = Allah SWT)___ dari nashaihul ‘ibad (nasihat-nasihat untuk para hamba) oleh Imam Nawawi

MUTIARA HADIST :

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya : sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. kemudian mereka ditanya, merekapun berfatwa tanpa dasar ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Artinya : sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi'in) kemudian generasi berikutnya (tabiu't tabi'in)"

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya : “Sesungguh ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”

SUMBER HADIST :

روى أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان في صحيحه وغيرهم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في ضمن حديث طويل:" إن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورِّثوا دينارًا ولا درهمًا، إنَّما ورَّثوا العلم، فمن أخذَه أخذ بحظٍّ وافر".

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏"‏ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ‏"‏‏. قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ‏.‏

وَحَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ السَّمَّانُ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبِيدَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ‏"‏ ‏.‏ فَلاَ أَدْرِي فِي الثَّالِثَةِ أَوْ فِي الرَّابِعَةِ قَالَ ‏"‏ ثُمَّ يَتَخَلَّفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ ‏"‏ ‏.‏

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ أَتَيْتُكَ مِنَ الْمَدِينَةِ مَدِينَةِ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُ بِهِ عَنِ النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏.‏ قَالَ فَمَا جَاءَ بِكَ تِجَارَةٌ قَالَ لاَ ‏.‏ قَالَ وَلاَ جَاءَ بِكَ غَيْرُهُ قَالَ لاَ ‏.‏ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ يَقُولُ ‏"‏ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ‏"‏ ‏.‏

SEMOGA BERMANFAAT
http://istana99kupu.blogspot.com/

05 September 2014

Kritik Bagi Mereka Pecinta Shalawat !

Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada yang tercinta dan seutama utamanya manusia Sayyidina Muhammad Saw, karena cahanyalah jua semua mahluk jadi ada. Membaca shalawat merupakan suatu hal yang sangat di anjurkan bahkan Allah Tuhan kita yang maha agung sendiri juga membaca shalawat untuk Nabi Muhammad Saw. Begitu juga segenap para malaikat mereka semua bershalawat kepada Nabi Muhammad.

Lalu untuk apa kita bershalawat, ya agar kita tidak lupa asal akan penciptaan diri, bukankah dunia ini sebelumnya tidak ada jadi ada karena “Nur Muhammad” artinya anda terlahir kedunia tidak serta merta dilahirkan begitu saja, tetapi anda dilahirkan karena adanya faktor senbab akibat yaitu karena “Nur Muhammad” lalu anda ditakdirkan Allah lahir kedunia ini. Maka kita sepantasnyalah bertrimakasih dan salah satu bukti dari perwujudan trimakasih itu ya dengan bershalawat. Makanya orang yang enggan bershalawat itu ibarat “kacang lupa akan kulitnya”.

Banyak sekali shalawat dengan berbagai macam redaksi shalawat, dan kerdang ini bikin kaum muslimin bingung mau mengamalkan shalawat yang mana. Soalnya masing-masing shalawat memiliki kehebatan, keistimewan sendiri-sendiri. Beberapa contoh shalawat : Shalawat Fatih, Adzimiyah, Nariyah, munjiyah, Syadziliyah, Ghozali, Badawiyah, Barriyah, Bahriyah Kubro, Sanusiyah dan masih banyak lagi shalawat-shalawat lainya. Sehingga ini menjadikan teman-teman sering gonta ganti bacaan shalawat.

Faktor yang menjadikan teman-teman sering gonta ganti shalawat ya karena mereka berkeyakinan bahwa shalawat “A” tersebut bisa berkhasiat ini dan itu, lebih hebat dari shalawat-shalawat lainya. Lalu ada lagi shalawat “B” membaca shalawat ini satu kali pahalanya sama dengan membaca shalawat lainya 600.000 kali, lalu ada lagi shalawat “C” yang pahalanya sama dengan menghatamkan kitab dalailul khoirot 100.000 kali serta terbebas dari siksa kubur dan neraka, lalu ada lagi shalawat “D” yang khasiatnya bisa mendatangkan rizki dan kekayaan. Dan begitu seterusya, teman-teman jadi tambah bingung kan. Masak karena terobsesi keistimewaan, keistimewan shalawat-shalawat tersebut  teman-teman mau di amalkan semuanya.

Jika kita membaca biografi para Auliya Allah, mereka memiliki shalawat pegangan sendiri-sendiri, contoh Imam Ghozali dengan Shalawat Ghozalinya, Syaikh Abu Hasan Asyadzili dengan Shalawat asma wa sifatnya, Imam Badawi dengan shalawat Badawiyahnya, Imam Sanusi dengan Shalawat Sanusiahnya, Imam Attaji dengan Shalawat Tafrijiyah/Nariyahnya, Syaikh Sayyid Bakri dengan Shalawat Fatihnya, begitu dan seterusnya.

Menurut pendapat penulis sendiri mengamalkan shalawat itu ibarat kita memilih istri, maksudnya jika teman-teman sudah punya istri lalu di luar sana ada banyak perempuan yang lebih cantik, lebih muda, lebih pintar, lebih kaya, dari istri kita, tetaplah teman-teman harus setia kepada istri anda, jangan tergoda oleh perempuan-perempuan tersebut walaupun sesungguhnya mereka sangat menggoda, jagalah istri anda dengan istiqomah, sayangi dan cintai sampai ajal menjemput.

Makna dari tafsir diatas adalah, Istri itu artinya shalawat yang sedang anda amalkan sekarang ini. Perempuan lain itu adalah shalawat-shalawat lainnya yang mungkin menurut penjelasan dan keterangan bahwa shalawat tersebut lebih hebat dari shalawat yang anda baca. Contoh anda suka dengan shalawat Badawiyah, tiba-tiba teman anda bilang jika shalawat Fatih lebih baik daripada shalawat badawiyah, lalu yang lainya lagi bilang bilang jika Shalawt Nariyah lebih unggul daripada shalawat fatih. Lalu ada lagi yang lainya datang dan bilang jika shalawat munjiyat lebih hebat daripada shalawat nariyah. Dan begitu seterusnya tidak ketemu ujungnya.

Catatan :

Jadi misalkan teman-teman mendapatkan Ijazah shalawat tertentu dari Ulama, ustazd atau Kyai silahkan teman-teman pegang erat, amalkan, cintai lalu setialah dengan shalawat itu dan Istiqomahlah. Mengenai masalah keutamaan dan keistimewaan dari suatu shalawat tertentu itu adalah urusan Allah, jadi tidak perlu anda pikirkan. Dan kita jangan ikut campur dengan urusanya Allah.

Sesungguhnya shalawat yang paling utama, paling mulia dan yang paling hebat adalah ketika anda bisa membacanya dengan penuh ihlas, penuh penghormatan dan dilakukan secara istiqomah.

Saya sendiri mengartikan shalawat sebagai bentuk dari salah satu bukti dari perwujudan jika kita ini cinta dan bertrimakasih kepada Nabi Muhammad saw.

Jika Anda bershalawat satu kali kepada Nabi Muhammad Saw, Maka Nabi akan bershalawat kepada anda sepuluh kali, Masya Allah Luar biasa. Wallahu a’lam, Subhanaka laa ilmalana illa maa allamtana, innaka antal alimul hakim.


BERIKUT ADALAH SEBUAH SHALAWAT SEORANG HAMBA KEPADA SANG KHOLIQ KARENA CINTA KEPADA SAYYIDINA MUHAMMAD SAW

﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم﴾

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَحْمَةِ الله، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ فَضْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ خَلْقِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا فِى عِلْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوْفِ كَلاَمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطْرِ اْلاَمْطَارِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ اْلاَشْجَارِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ اْلقِفَارِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اْلحُبُوبِ وَ اْلثِمَارِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا اَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلِ وَاَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّ عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اَنْفَاسِ اْلخَلاَئِقِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ النُّجُوْمِ السَمَوَاتِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ كُلٍ شَىْءٍ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ، وَصَلَوَاتُ اللهِ تَعَالَى وَمَلاَئِكَتَهِ وَاَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَاِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ وَقَائِدِ غُرِّ اْلمُحَجِّلِيْنَ وَشَفِيْعِ اْلمُذْنِبِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَاَهْلِ بَيْتِهِ وَاْلاَئِمَّةِ اْلمَاضِيْنَ وَاْلمَشَايِخِ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَاَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَوَاتِ وَاَهْلِ اْلاَرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْاَلُكَ بِنُوْرِ وَجْهِ اللهِ الْعَظِيْمِ، اَلَّذِيْ مَلأَ اَرْكَانَ عَرْشِ اللهِ الْعَظِيْمِ، وَقَامَتْ بِهِ عَوَالِمُ اللهِ الْعَظِيْمِ، اَنْ تُصَلِّيَ عَلىَ سَيّدِنَا مَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ ذِيْ الْقَدْرِ الْعَظِيْمِ، وَعَلىَ آلِ نَبِيِّ اللهِ الْعَظِيْمِ، بِقَدْرِ عَظَمَةِ ذَاتِ اللهِ الْعَظِيْمِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَماَ فِيْ عِلْمِ اللهِ الْعَظِيْمِ، صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ اللهِ الْعَظِيْمِ، تَعْظِيْماً لِحَقِّكَ يَامَوْلاَناَ ياَمُحَمَّدُ ياَذَالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ، وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِه مِثْلَ ذَلِكَ، وَاجْمَعْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ كَماَ جَمَعْتَ بَيْنَ الرُّوْحِ وَالنَّفْسِ، ظاَهِرًا وَباَطِناً، يَقْظَةً وَمَناَماً، وَاجْعَلْهُ ياَرَبِّ رُوْحاً لِذاَتِيْ مِنْ جَمِيْعِ الْوُجُوْهِ، فِي الدُّنْياَ قَبْلَ اْلآخِرَةِ ياَعَظِيْم‎، يَارَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، لَاإِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُ اللهِ الْعَظِيْمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلاَّ اِلَيْهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّغْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا يَاذَى الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلىٰ خَيْرِ خَلْقِهِ وَنُوْرِعَرْشِهِ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلۤىٰ آلِهِ وَاَصْحَابِهِۤ وَعَلۤىٰ اَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَوَاتِ وَاَهْلِ اْلاَرَضِيْنَ صَلَوَاتٌ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ صَلاَةً كَامِلةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا دَائِمَةً بِدَوَامِ اللهِ الْعَظِيْمِ، سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ۞
Semoga Bermanfaat

04 September 2014

Kenapa Kita Harus Menyayangi Binatang


Memberi Minum Anjing Yang Kehausan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي هَذِهِ الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا فَقَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, "Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di sebuah jalan, tiba-tiba ia merasa haus. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah sumur air. Lalu ia pun turun ke dalam sumur tersebut untuk meminum airnya. Tak lama kemudian ia keluar dari dalam sumur dan tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil menjilat tanah, karena hausnya. Laki-laki itu berkata, 'Anjing ini pasti sangat haus seperti yang saya alami tadi.' Kemudian laki-laki tersebut turun lagi ke dalam sumur untuk mengisikan air ke dalam terompahnya. Setelah itu ia bawa terompah berisi air tersebut ke atas dengan cara menggigitnya dan meminumkannya kepada anjingyang kehausan itu. Dengan perbuatannya itu, Allah membalas kebaikannya dan mengampuni segala dosanya. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kita akan mendapat pahala jika kita berbuat baik dan sayang kepada binatang peliharaan kita?' Rasulullah SAW menjawab, "Menyayangi setiap makhluk yang bernyawa akan mendapatkan pahala." (HR. Muslim 7/44)


Balasan karena menyiksa binatang

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ


Dari Abdullah bin Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, "Ada seorang wanita yang disiksa {di neraka} lantaran ia pernah menyiksa kucing. Wanita tersebut mengurung kucing itu sampai mati, maka ia pun masuk neraka karenanya. Ia tidak memberinya makanan dan minuman, tetapi mengurungnya serta tidak membiarkannya untuk mencari makan serangga yang ada di muka bumi ini." (HR. Muslim 7/43)

SEMOGA BERMANFAAT
http://istana99kupu.blogspot.com/

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Lima Waktu

Berikut bacaan dzikir yang bisa anda
baca setelah shalat lima waktu :

1. اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ لِى وَالِوَلِدَيَّ وَلِاَصْحَابِ اْلحُقُوْقِ اْلوَاجِبَةِ عَلَيَّ وَلِمَشَايِخِنَا وَلِاِخْوَانِنَا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمَوَاتِ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ....3x
2. لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ... 3
x
3. اَللّهُمَّ اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ...3
x
4. اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ
5. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَاْلجَدِّ مِنْكَ اْلجَدُّ
6. سُوْرَةُ اْلفَاتِحَةِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾. أمِيْن
7. سُوْرَةُ اْلاِخْلاَصِ ...3
x بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾ ... (3)
8. سُوْرَةُ اْلفَلَقْ ...1
x
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾
9. سُوْرَةُ النَّاسِ ...1
x
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾
10. اٰيَةُ اْلكُرْسِى...1
x
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَاحِدْ ، لاَاِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم، اَللهُ لاَاِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ اْلقَيُّوْمُ، لاَتَأْخُذُهُ سِّنَةُ وَلاَ نَوْمُ، لَهُ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْض، مَنْ ذَاالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلاَّ بِاِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِنْ عِلْمِهِ اِلاَّ
بِمَاشَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ، وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ .
للهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ، وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِى اَنْفُسِكُمْ اَوْتُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ الله، فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ، وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر. أٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَاْلمُؤْمِنُوْنَ، كُلٌّ أٰمَنَ بِااللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ، وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ، لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا ، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااْكتَسَبَتْ، رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ.

11. شَهِدَ اللهُ اَنَّهُ لاَاِلٰهَ اِلاَّهُوَ وَاْلمَلاَئِكَةُ وَاُوْلُواْلعِلْمِ قَائِمًا بِااْلقِسْطِ لاَاِلٰهَ اِلاَّهُوَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ، اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَاللهِ اْلاِسْلاَمُ قُلِ اللّهُمَّ مَالِكَ اْلمُلْكِ تُؤْتِى اْلمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزَعُ اْلمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ اْلخَيْرُ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ
قَدِيْرٌ، تُوْلِجُ اللَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ اْلحَيَّ مِنَ اْلمَيِّتِ وَتُخْرِجُ اْلمَيِّتَ مِنَ اْلحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابْ.
12. اِلٰهَنَا يَا رَبَّنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا – سُبْحَانَ الله – 33
x، سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا اَبَدًا
13. اْلحَمْدُ لله ... 33
x، اْلحَمْدُ لله رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ عَلٰى كُلِّ حَالٍ وَنِعْمَةٍ
14. اَللهُ اَكْبَرُ ... 33
x، اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِااللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
15. اَسْتًغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْم 33
x
16. اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ – لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللهُ –33
x
17. لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَلِمَةُ اْلحَقُّ عَلَيْهَا نَحْيٰ وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ اِنْ شَاءَاللهُ تَعَالٰى مِنَ اْلاٰمِنِيْنَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَكَرَمِهِ، جَزَ اللهُ عَنَّا سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهُوَ اَهْلُهُ
.
Sumber : LTM-PBNU 

Dikatakan 50 Persen Pejabat Daerah Di Indonesia Adalah Koruptor


Lima belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah memprediksi apa yang akan terjadi terhadap umat beliau. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, beliau bersabda, “Kamu akan berlomba mendapatkan jabatan, padahal itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat nanti.”

Dalam hadis ini, Nabi mengecam perilaku umatnya yang menggebu-gebu mendapatkan jabatan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Dalam riwayat lain, juga oleh Imam Muslim, Nabi memberikan penegasan.

Jabatan itu merupakan sebuah skandal memalukan yang akan dibongkar pada hari kiamat. Bila disebutkan pada hari kiamat, itu artinya bagi pemegang jabatan yang bersangkutan tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.

Maka derita pemegang jabatan tidak akan berakhir karena itu terjadi pada hari kiamat. Sedangkan, kesempatan bertobat tidak ada lagi.

Kepada seorang sahabat bernama Abdurrahaman bin Samurah, Nabi menyatakan, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu minta diberi jabatan. Apabila kamu memperoleh jabatan tanpa memintanya, kamu akan ditolong. Tetapi, kalau kamu memperoleh jabatan karena kamu memintanya, semua permasalahan akan dibebankan kepadamu.”

Dari hadis ini para ulama berkesimpulan, meminta jabatan berikut segala upaya untuk itu, termasuk berkampanye dan segala rekayasa agar dirinya terpilih untuk mendapatkan jabatan, merupakan perbuatan yang dilarang agama.

Prediksi Nabi ini tampaknya sudah terwujud sekarang. Banyak di antara umat beliau yang sekarang tergila-gila untuk memperoleh jabatan, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Konon, untuk menjadi anggota DPR-RI, seseorang harus mengeluarkan uang dari koceknya lebih dari Rp 1 miliar. Sedangkan, untuk menjadi gubernur di sebuah provinsi yang tidak potensial, sang calon gubernur konon harus mengeluarkan dana sebanyak Rp 150 juta. 

Tampaknya, untuk konteks Indonesia masa kini, tidak ada seorang yang memperoleh jabatan dengan gratis. Inilah bukti prediksi Nabi, 15 abad yang lalu. Perbuatan seperti ini sudah dikecam Nabi. Apalagi, kalau selama memegang jabatan, mereka menyalahgunakan wewenangnya.

Diberitakan, lebih dari 50 persen kepala daerah di Indonesia, yang meliputi gubernur, bupati, dan wali kota merupakan koruptor. Bila berita ini benar, tidak terasa selama ini kita dipimpin oleh para koruptor.

Kami sendiri mengamati ada orang yang sebelum memegang jabatan, ia seorang yang saleh. Ia selalu memakai serban dan ke mana-mana disambut serta diciumi tangannya oleh masyarakat. Namun, setelah memperoleh jabatan, perilakunya berubah total.

Ia menjadi penjahat struktural kendati masih memakai serban. Inilah bajingan memakai serban. Maka, tepatlah prediksi Nabi di atas, jabatan akan menjadi penyebab penderitaan tiada akhir. Apakah semua pejabat akan memperoleh konsekuensi seperti itu? Jawabannya, tidak.

Sebab dalam sebuah pesan kepada Abu Dzar, Nabi mengatakan jabatan itu amanah. Pada hari kiamat nanti jabatan menjadi penyebab kehinaan dan penyesalan, kecuali yang mendapatkannya memiliki hak (kapasitas) untuk itu dan ia melaksanakan amanah yang dipikulkan kepadanya.

Dalam hadis lain, Nabi justru menyebut keutamaan pejabat dan imam adil, yaitu mereka yang memberikan hak kepada setiap orang yang memiliknya. Ia justru menjadi satu dari tujuh orang yang mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari kiamat.

Maka mendapatkan jabatan dibolehkan apabila yang bersangkutan memiliki kapasitas untuk itu. Adapun cara mendapatkannya tidak berlawanan dengan tuntunan Islam dan dalam menjalankan jabatan ia berlaku adil serta tidak menjadi penjahat struktural. 


Oleh: Prof. Dr Ali Mustafa Yaqub

Rasa Kegundahan Hati Pak Misrun

Sebut saja namanya Pak Misrun. Seorang mandor sebuah pengembang perumahan. Selama ini perusahaan yang mempekerjakannya selalu puas atas kinerjanya. Usianya sudah menginjak kepala enam. Fisiknya sudah terlihat rapuh.

Pernah suatu waktu, Pak Misrun yang sadar fisiknya tidak seprima 20 tahun yang lalu menyampaikan untuk mengundurkan diri. Tapi selalu ditolak halus oleh pimpinannya. Sampai tibalah di hari itu, Pak Misrun ingin berpamit untuk berhenti kerja.

Namun, kali ini sepertinya akan dikabulkan. Boleh, jika Pak Misrun ingin mengundurkan diri tapi mohon kerjakan satu proyek rumah untuk yang terakhir kali, ujar sang pimpinan.

Pak Misrun sebenarnya sudah tidak bisa menikmati segala macam pekerjaannya ini. Sehingga, meski diterima, tapi tidak dengan semangat seperti awal-awal dia bekerja. 

Kali ini dia mengerjakannya asal-asalan, setengah hati, dan cenderung yang penting selesai, pilihan bahan-bahan bangunan dan furnitur pun tidak seperti biasa.

Singkat cerita, selesai sudah proyek rumah besar tersebut. Dan Pak Misrun pun berniat menghadap sang pimpinan. Beberapa kunci rumah dan kamar di genggamnya. 

Namun, ketika hendak masuk ruangan si bos, sekretaris kantor memberi kabar si bos sedang mengerjakan umrah dan menitipkan dua amplop besar untuknya. Penasaran dengan isi dari dua amplop tersebut, Pak Misrun membukanya dengan seksama.

Amplop pertama berisi ucapan terima kasih perusahaan kepada beliau atas pengabdiannya selama ini. Sedangkan amplop kedua berisi Surat Sertifikat Tanah. 

Sedikit terkaget, ketika isi surat kepemilikan tanah tersebut ternyata mencantumkan nama beliau sebagai pemilik dari rumah yang baru saja diselesaikannya.

Terselip secarik kertas kecil, tulisan tangan sang pimpinan, Dengan telah dibukanya kedua amplop ini saya mengucapkan untuk terakhir kalinya ucapan terima kasih atas pengabdian yang tulus dari Pak Misrun untuk perusahaan ini. 

Sebagai tanda mata kami, mohon berkenan menerima satu unit rumah dengan seluruh isi yang telah Pak Misrun siapkan. Kunci langsung saja dipegang untuk selamanya oleh Pak Misrun. Kontan, berbagai gejolak rasa menyergap hatinya. 

Di antara rupa-rupa rasa itu adalah penyesalan yang tak terhingga. Kenapa, untuk terakhir dia bekerja, dia tidak maksimal mengerjakan proyek yang sebenarnya direncanakan untuk sebuah hadiah atas pengabdiannya selama ini.

Ikhwah, begitulah sebuah fragmen cerita untuk kita unduh hikmahnya. Ternyata atas semua pengabdian kita selama ini, pada titik tertentu pasti Allah akan memberi apresiasi yang tidak kita duga sebelumnya. Dan itu adalah haq. 

Apresiasi Allah terkadang sesuai dengan yang sudah kita kerjakan atau bahkan dilebihkan dari yang telah kita persembahkan (baca QS al-Muzamil, 20). Wallahu a'lam.


Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

Tentang Bid'ah


Ahir-ahir ini muncul kembali golongan yang menganggap semua bid’ah itu sesat meskipun itu baik bagi kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Tulisan-tulisan mereka banyak beredar di internet blog dan website, toko-toko buku, stan-stan Islam Book Fair, bahkan di media jejaring sosial seperti facebook, twitter pun mereka memiliki grup “Semua Bid'ah Sesat, ganjaranya Neraka”. Padahal dulu zaman Nabi para sahabat gak ada yang menggunakan jejaring sosial seperti  facebook dan juga twitter.


Tetapi pada kenyataanya mereka tidak konsisten, disatu sisi mereka mengatakan semua bid’ah sesat dengan berpegang teguh kepada hadis Nabi “Kullu bid’atin dhalah” yang artinya semua bid’ah (sesuatu yang baru) itu sesat. Itu tanpa kecuali, Mereka mungkin tidak pernah melihat sejarah, bahwa pada masa Rasulullah al-Qur’an belum dibukukan, baru disatukan dalam satu mushaf pada masa Abu Bakar yang kemudian disempurnakan pada masa Utsman bin Affan yang dikenal dengan nama mushaf Utsmani.

Ayat-ayat al-Qur’an pada masa Rasulullah dan masa Khulafaurrasyidin belum ada titik (nuqtah), syakal (harakat) seperti sekarang, akan tetapi setelah Islam menyebar ke berbagai bangsa barulah ayat-ayat al-Qur’an diberi titik, harakat supaya orang-orang Non-Arab atau orang Arab yang tidak pernah mendengar dari Rasulullah tidak salah dalam membacanya.

Pemberian syakal, titik pada ayat-ayat al-Qur’an dilakukan pada masa khalifah Bani Umaiyah yang bernama Abdul Malik bin Marwan (70 H). Apakah semua itu dikatakan bid’ah sesat karena Rasulullah tidak pernah melakukannya?,

Apakah anda juga tahu bahwasanya Nabi Muhammad saw dulu pernah melarang para sahabatnya untuk tidak menuliskan apa-apa yang telah beliau (hadis) sampaikan karena beliau takut akan bercampurnya dengan firman Allah (Al-quran). 


BERIKUT INI ADALAH PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITSIN TENTANG BID’AH:

1. Al-Hafidh Al-Muhaddits Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i rahimahullah (Imam Syafii). Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela. beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al-Imam Al-Hafidh Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat Nabi, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017).


Dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al-Muhaddits Al-Hafidh Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy rahimahullah (Imam Nawawi).
Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105).

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5 yaitu :

1. Bid’ah yang wajib
2. Bid’ah yang mandub/sunnah
3. Bid’ah yang mubah
4. Bid’ah yang makruh
5. dan Bid’ah yang haram.
Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan-ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid’ah yang Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik-baik bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

4. Al-Hafidh Al-Muhaddits Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah Ku pastikan ketentuan-Ku untuk memenuhi jahannam dengan Jin dan manusia keseluruhannya”. (QS. As-Sajdah : 13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh As-Suyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati dari manakah ilmu mereka, berdasarkan apa pemahaman mereka, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam yang terkemuka.

03 September 2014

Kisah Kiyai Hamid Pasuruan 2

Kyai Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri yaitu dengan Nyai Hj. Nafisah Binti KH Ahmad Qusyairi Bin KH Muhammad Shiddiq Jember. Dan  KH Muhammad Shiddiq Jember atau yang terkenal dengan panggilan Mbah Shiddiq merupakan kakek dari Kyai Hamid Pasuruan, disebabkan karena ibu kandung Kyai Hamid sendiri merupakan putri dari Mbah Shiddiq. Makam Mbah Shiddiq sendiri berada di utaranya Bank Indonesia (BI) Cabang Jember atau Selatanya Kantor Telkomsel Jl Gajah Mada Jember.

Kyai Hamid dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Diantara putra-putra beliau yaitu Gus Nu’man, Gus Nasikh (Almarhum) yang menikah dengan orang Curah Malang- Rambipuji Jember dan terahir Gus Idris. Kyai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.

Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun beliau menghadapinya dengan sabar. Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu. Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu sangat sedih, sehingga Kyai Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat pilu setelah bayinya yang kedua yaitu Zainab juga meninggal dunia, padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain.


KH. Hasan Abdillah, adik dari istri Kiai Hamid, menuturkan seperti layaknya keluarga pada umumnya, Kyai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun. Tetapi tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.

Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Sikap tawadlu’ sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan)” . Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya, beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. “Angel dukane, gampang nyepurane”, kata Durrah, menantunya. Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.


Inilah beberapa Karamah Allah untuk KH. Abdul Hamid
- Pada masa orde baru, partai yang berkuasa saat itu ingin mengajak kyai Hamid masuk partai pemerintah. kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat itu dengan baik. ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, kyai hamid menerimanya dan menandatanganinya. anehnya pulpennya tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. ahirnya kyai hamid berkata "bukan saya lo yang gak mau, bolpointnya yang gak mau". itulah kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.

- Said Amdad Pasuruan, seorang rasional. Mendengar kewalian Kiai Hamid yang tersohor kemana-mana, dia jadi penasaran. Suatu kali ia ingin mengetes, “Saya ingin diberi makan Kiai hamid. Coba dia tahu apa tidak” katanya dalam hati ketika pulang dari Surabaya. Setiba di Pasuruan dia langsung ke pondok Salafiyah pesantrennya Kiai Hamid.  Waktu itu bersamaan dengan jamaah sholat isya. Sehabis sholat isya ia tidak langsung keluar, tetapi membaca wirid dulu.

Sekitar pukul 20.30 WIB, jamaah yang di masjid sudah pada pulang semua. Terlihat lampu teras rumah Kiai Hamid pun juga sudah dipadamkan, Said melangkah keluar dari dalam masjid. Tetapi tiba-tiba said melihat ada seseorang yang melambaikan tangan dari rumah Kiai Hamid. Dia pun menghampiri. Ternyata yang melambaikan tangan adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. “Makan disini ya,” kata beliau. Diruang tengah hidangan sudah ditata. “Maaf ya, lauknya seadanya saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih” kata Kiai Hamid dengan ramahnya. Said merasa di sindir, sejak itu dia percaya Kiai hamid adalah seorang wali.

- Asmawi gundah gulana, Ia harus membayar hutang yang jatuh tempo. Jumlahnya Rp. 300.000,- jumlah itu sangat besar untuk ukuran waktu itu. Hutang itu buat pembangunan masjid. Asmawi sempat menangis saking sedihnya. Dia  berpikir darimana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Pikirannya jadi buntu.

Asmawi pun melapor ke Kiai Hamid. “Laopo nangis sik onok yai, (mengapa menangis masih ada kiai)” beliau menghibur. Lalu Kiai menyuruh menggoyang-goyangkan pohon kelengkeng di depan rumah beliau. Daun-daun yang berguguran disuruh ambil, diserahkan kepada Kiai Hamid. Beliau meletakan tangannya dibelakang tubuh, terus memasukannya ke saku. Begitu dikeluarkan ternyata daun-daun di tangannya berubah menjadi uang kertas. Beliau menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng satunya lagi. Daunnya diambil, terus tangan beliau dibawa kebelakang tubuh (punggung) lalu dimasukkkan ke saku dan daun-daunnya sudah menjadi uang kertas. Setelah dihitung ternyata jumlahnya Rp 225.000,- Alhamdulilah masih kurang Rp. 75.000,- Tiba-tiba ada tamu datang memberi Kia Hamid Rp. 75.000,- jadi pas.

Berikut ini adalah salah satu amalan Kiai Hamid yang biasa beliau lakukan dan beliau ijazahkan kepada orang-orang :


1. Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurut beliau, orang yang terbiasa istiqomah membaca ini dengan izin Allah akan mendapatkan banyak keajaiban-keajaiban yang tiada terduga. Cara membacanya cukup mudah bisa dicicil (dibagi-bagi) dibaca 20 kali setiap selesai shalat lima waktu.
2. Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali.
3. Membaca shalawat Nariyah dan Munjiyat 1000 kali.
4. Membaca kitab Dala’ilul Khairat (Kitab yang isinya Gabungan antara ayat-ayat Allah, shlawat dan Ismul A’dham).

Berbicara atau menceritakan kisah ulang seorang ulama terlebih lagi beliau sudah berkedudukan sebagai Waliyullah fil ardi merupakan suatu oase tersendiri zaman sekarang ini. Dengan membaca sejarah ini kita tahu bagaimana ahlak, perjuangan, dakwah, kesabaran serta keihlasan mereka dalam melayani umat dan itulah yang sepatutnya kita tiru. Sekarang ini kita sangat sulit mencari ulama-ulama yang muhlisin (berhati ihlas yang tiada mengenal lelah dalam melayani umat) yang bisa dijadikan tempat rujukan keluh kesah dan curhat umat.

Mengenai karomah yang telah Allah swt berikan kepada beliau merupakan suatu khoriqul lil adat (suatu kejadian yang tidak biasa di mata orang umum) yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, itu sengaja Allah swt berikan untuk mereka, itu karena ibadah yang mereka lakukan juga khoriqul lil adat artinya ibadah yang mereka lakukan kepada Allah juga sangat luar biasa volume, kuantitas serta kualitasnya, beda dengan ibadahnya orang pada umumnya. Ibadahnya orang kebanyakan hanya alakadarnya untuk menggugurkan kewajiban. Adakalanya kita Ibadahnya rajin ketika ada maunya atau juga ketika lagi tertimpa masalah dan ujian.

Dan tulisan ini saya ahiri dengan sebuah doa ; Doa saya kepada KH Abdul Hamid, dan ini doa dari Sahabat Anas bin Malik Ra :

DOA ANAS BIN MALIK RA

اللَّهُمَّ عَبْدُك رُدَّ عَلَيْك، فَارْأَفْ بِهِ وَارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ جَافِ الأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ وَافْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ، وَتَقَبَّلْهُ مِنْك بِقَبُولٍ حَسَنٍ، اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَضَاعِفْ لَهُ فِي إحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَن سَيِّئَاتِهِ

Artinya : Ya Allah, hamba-Mu ini telah dikembalikan kepada-Mu, maka kasihilah dia dan rahmatilah dia, Ya Allah  jauhkanlah bumi dari sisinya, dan bukakanlah pintu-pintu langit untuk ruhnya, dan terimalah dia di sisi-Mu dengan penerimaan yang baik.Ya Allah jika dia melakukan kebaikan maka lipat gandakanlah kebaikannya, dan jika dia melakukan keburukan maka abaikanlah keburukannya". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Sunting dan edit oleh istana kupu kupu