21 September 2014

Belanda Merampok Lebih dari 57.150 Ton Emas Batangan dari Indonesia

Pangeran Sambernyowo : Nama asli beliau adalah Raden Mas Said, yang Kelak bertahta di Surakarta dengan gelar  KGPAA Mangkunegara I.

Beliau bergerilya melawan penjajah Belanda sejak usia 18 hingga 32 tahun. Jadi selama 17 tahun, hidupnya diabdikan untuk mengusir penjajah. Ia mempunyai garwa padmi anak dari Pangeran Mangkubumi. Mertua dan menantu ini bahu membahu bergerilya dari desa ke desa. Tetapi di tengah perjuangan itu Pangeran Mangkubumi berhasil dibujuk oleh Gubernur Jenderal Batavia untuk ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Hamengku Buwono I.

Pangeran Sambernyawa sangat merakyat dannperjuangannya melawan penjajah Belanda juga bahu-membahu bersama rakyat, Sehingga beliau dalam menyatukan pasukannya selalu dengan pekikan: “Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Artinya dalam berjuang mengusir penjajah kalau satu mati, semua harus berjuang sampai mati. Kalau satu berjaya, semua juga harus berjaya. Sama rata sama rasa sama bahagia.

Di tengah perjalanan, di sebuah desa Matah, beliau beristirahat untuk beberapa waktu. Pada malam hari ada seorang warga desa yang nanggap wayang. Beliau hanya menonton dari jauh. Tiba-tiba Pangeran Sambernyowo melihat sinar dari langit turun ke halaman tempat perhelatan. Beliau mendekati cahaya itu dan ternyata berasal dari paha salah seorang penonton, seorang gadis yang kainnya tersingkap. Beliau lalu menyobek kain sang gadis di dekat pengasihan. Pada malam itu hampir semua penonton perempuan tertidur pulas, termasuk sang gadis yang kainnya tersingkap tadi.

Setelah pertunjukan usai, sang ajudan diminta memanggil seluruh penonton perempuan dan berbaris berjajar di hadapan Raden Mas Said. Setelah melihat gadis yang kainnya disobek tadi maka RMS meminta agar sang gadis bisa segera membawa ayahnya ke hadapannya.

Begitu sang ayah dihadapkan ternyata ia adalh Kyai Nuriman guru ngajinya. maka dimintalah Rubiyah, nama gadis tersebut sebagai istri. Lalu diberi gelar RAy Patahati, karena lahir di desa Matah dan mematahkan hati sang Pangeran.

Tembang ke-dua Dhandahanggula adalah untuk menggambarkan siapa Rubiah yang cantik dan kelak menjadi kepala prajurit wanita yang selalu unggul dalam peperangan. Dan putra-putrinya kelak, atas didikan sang ayahanda KGPAA Mangkunegara I, setiap panen padi, tidak ada terkecuali seluruh anggota Puri Mangukenagaran harus turun ke sawah untuk ikut ani-ani memanen padi.

Pada usia 22 tahun, R. M. Sahid dijodohkan dengan putri P. Mangkubumi yaitu R. A. Inten. Oleh mertuanya itu nama R. M. Said diberi gelar Pangeran Adipati Hamengkunegoro Senopatining Panata Baris Lalana Adikareng Nata.Pesanggrahan mereka berada di Mataram. Maka atas penghormatan sang menantu, P. Mangkubumi ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelarKangjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama. R. M. Sahid kemudian diangkat sebagai patih sekaligus panglima perang dan bergelar Senopati Kawasa Misesa Wadya. Selama 9 tahun mereka melawan Kartasura dan Belanda.

Ketika R. M. Said berusia 28 tahun, terjadi perselisihan dengan P. Mangkubumi yang sekaligus paman dan mertuanya. Pangkal perselisihan adalah ketika Paku Buwono II wafat, kerajaan diserahkan kepada Belanda. Belanda kemudian membujuk Mangkubumi akan diberi kekuasaan, yang disahkan dalam Perjanjian Giyanti (1755M).  Inti perjanjian adalah kekuasaan Mataram dipecah dua. P. Mangkubumi diberi kekuasaan baru di Yogyakarta yang kemudian disebut Kesultanan dan PB III berkuasa di Surakarta yang kemudian disebut Kasunanan. Mangkubumi lalu berganti gelar Sultan Hemengku Buwono Senopati Ngalogo Abdurarahman Sayidin Panatagama.

R. M. Said bercita-cita menyatukan kembali Mataram, maka ia terus berperang melawan Belanda, dan itu berarti melawan Kasultanan dan Kasunanan yang mau bekerjasama dengan Belanda. R. M. Said dalam berperang melawan Belanda dan juga Kasunanan dan Kasultanan memakan waktu 16 tahun dan terdiri atas 250 peperangan.  Ia sendirian melawan Belanda, Hemengkubuwono I (P. Mangkubumi), dan Paku Buwono III.
Taktik penyerangan dengan menggunakan 3 cara: dhedhemitan, weweludan, dan jejemblungan.  Menghindar dari musuh yang berjumlah besar, menyerang musuh ketika lengah dengan secepat-cepatnya, bunuh musuh sebanyak-banyaknya, setelah itu pergi dan menghilang. Karena taktik itulah kemudian Raden Mas Said dijuluki Pangeran Sambernyawa.

Catatan:

Saat menulis artikel ini saya terganggu oleh beberapa telepon yang tidak harus tidak harus saya angkat. Pergulatan kekuasaan raja-raja Jawa selalu penuh dengan intrik dan tipu daya. Mengapa Belanda harus menaklukkan semua raja-raja di Nusantara? Karena ia ingin memboyong semua emas kepunyaan Raja-Raja Nusantara ke Belanda. Hanya Amangkurat I yang emasnya tidak dibawa karena mau menjadi penjilat Belanda.

Seluruh kekayaan Kekuasaan Nusantara yang dibawa ke Belanda mencapai 57.150 ton lebih emas batangan. Setelah Belanda kalah dengan Jerman, kemudian emas tersebut dipindahkan ke Bank Zurich di Jerman. Dan ketika Jerman kalah oleh Amerika, emas itu semua diboyong sebagai rampasan perang ke Amerika. Itulah yang pada suatu hari nanti terjadi perjanjian Green Hilton antara Soekarno dan Kennedy. 

Intinya Amerika mengakui bahwa emas itu milik raja-raja Nusantara akan tetapi tidak ada klausul yang menyebutkan bahwa kekayaan itu bisa ditarik kembali. Dalam perjanjian itu Sukarno tetap meneken dengan catatan bahwa sewanya per tahun 2 - 3%. Dan kolateral inilah yang dijadikan aset mendirikan Bank Dunia. Hingga tahun 2008 kalau dihitung bunganya sudah hampir sama dengan nilai aset semula.

darimana raja-raja nusantara mempunyai emas sebanyak itu? Investigasi yang menarik. Apabila tulisan ini diseyujui oleh 1 juta orang, saya akan buka sejarahnya yang bisa dipertanggungjawabkan secara ideologis, secara ilmih, dan secara historis. Termasuk apa sih kesimpulan pertemuan raja-raja Nusantara tahun 2000 di Bali?


Sumber : George Soedarsono Esthu - Kompasiana
Website : www.kompasiana.com/soedarsonoesthu
Referensi :  http://sejarah.kompasiana.com/2011/11/28/pangeran-sambernyowo-416519.html


Menggugat Mereka Para Ahli Ziarah Kubur

Banyak hal yang sering kita abaikan, padahal hal tersebut merupakan jantung dari persoalan tersebut, tetapi kita sepelekan ya mungkin karena kita kurang sadar atau karena tidak mau menyadarinya (acuh tak acuh). Dan ini yang akan saya tuangkan mengenai pikiran-pikiran pribadi saya, terutama yang ada kaitanya dengan ziarah (kepada sesama muslim yang masih hidup ataupun sudah meninggal dunia).

Disini kenapa saya menulis artikel kali ini yang judulnya “Kritik bagi para pecinta ahli kubur” ini merupakan sebuah opini dari diri pribadi penulis, tidak ada kewajiban untuk anda harus sepaham dengan pendapat yang saya ungkapkan ini. Penulis sendiri hanyalah seorang yang faqir (bodoh & miskin), dan hanya Allahlah yang maha kaya dan maha mengetahui.

Buat para saudaraku terutama teman-teman nahdliyin (NU), ataupun juga teman-teman Muhammadiyah, LDII atau apapun juga organisasi anda, yang kebetulan mampir di blog saya ini, blog sederhana yang disana sini banyak sekali kekurangan. Saya ucapkan trimakasih telah meluangkan waktunya untuk mampir di blog ini, ya semoga barokah, taufiq serta hidayah dari Allah swt senantiasa setia menemani hari-hari anda sekarang, esok dan akan datang. Amien...

Penulis adalah seorang muslim dan juga seorang Nahdliyin tulen, maka artinya penulis juga suka melakukan yang namanya ziarah (kepada sesama muslim yang masih hidup ataupun sudah meninggal dunia).

Melakukan ziarah merupakan suatu yang di sunnahkan apakah kepada mereka yang masih hidup ataupun sudah meniggal dunia
(1). Ziarah kepada orang tua (Paling Utama).
(2). Ziarah kepada guru
(3). Dan ziarah kepada sesama muslim (ulama atau orang-orang sholeh).

Di kabupaten Jember sendiri ada beberapa tokoh orang-orang sholeh di masa lalu yang masayarakat mengatakan adalah para auliya, wali-wali Allah yang ada di Jember, seperti :
1. Habib Sholeh Bin Muhsin Al-Hamid : Tanggul Jember
2. KH. Muhammad Shiddiq : Kota Jember
3. KH. Ahmad Hafid : Nogosari Rambipuji Jember
4. KH. Agung Senadin : Jereng Panti Jember
5. KH. Haramain : Gadungan Kasiyan Puger Jember
6. KH. Jauhari Zawawi : Kencong Jember
7. KH. Muhammad Nur : Kemuning Panti Jember
8. KH. Ali Wafa : Tempurejo Jember
9. KH. Abdullah Yaqin : Mlokorejo Puger Jember
10. KH. Muhammad Umar Sumber Waringin Jember
11. KH. Abdul Hanan Manggisan Tanggul

Ada beberapa kisah yang saya temui pada saat melakukan ziarah terutama pada saat berkunjung ke makam para auliya. Sebagian besar dari mereka banyak yang mengatakan jika mereka datang mencari “BAROKAH” dengan cara bertawasul. Dengan bertawasul harapan mereka yaitu mereka ingin jika persoalan hidup seperti hutang piutang, pekerjaan, keluarga mereka bisa teratasi, tercapai segala hajat, sukses di pekerjaan, berkah dan banyak lagi lainya. Mereka meminta kepada Allah melalui perantara orang-orang sholeh ini, dan ini yang sering di lakukan kebanyakn orang : dan itu sah-sah saja, boleh alias gak ada masalah, karena mereka memintanya kepada Allah dengan hak orang sholeh ini.

PEMBAHASAN UTAMA

Jika tawasul adalah suatu hal yang sah dan gak ada larangan untuk melakukanya, lalu persoalan dalam masalah ziarah kubur itu dimana?

Pada saat orang mengunjungi makam orang-orang sholeh terutama mereka yang sudah bergelar Waliyullah, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) motif :
1. Mereka datang semata-mata minta kepada si Mayit (ini sifatnya talazum)
2. Mereka datang karena ingin melakukan washilah/tawasul dan tabarrukan, ini yang sering dan banyak di lakukan orang-orang
3. Mereka datang semata-mata hanya karena ingin mendoakan si mayyit (waliyullah) dan mengenang, meneladani ahlak, dakwah serta perjuangan mereka, ini yang jarang di lakukan.

PENGALAMAN PRIBADI DARI PENULIS

Kenapa disini saya mencritakan pengalaman pribadi saya sendiri pada saat melakukan ziarah kepada orang-orang sholeh baik mereka yang sudah meninggal dunia terlebih lagi untuk mereka yang masih hidup.

Disini sekali lagi penulis tekankan kepada teman-teman, anda tidak harus sepaham atau setuju dengan apa-apa yang saya tuliskan disini, dan juga tidak ada kewajiban jika anda harus percaya dengan saya.

Biasanya saya pada saat libur kerja dan juga gak ada kesibukan di rumah, saya sempatkan untuk mengaji makam auliya meskipun hanya sekedar membaca surat Ihlas sebelas kali. Biasanya dari rumah saya niatkan dalam hati jika saya kesana bukan niat ziarah kubur tetapi niat untuk sowan/bertamu.

Meskipun arti ziarah sendiri sinonim dengan kata sowan/berkunjung. Dan berikut adalah hal-hal yang biasanya saya lakukan dan Insya Allah akan senantiasa saya lakukan pada saat bertamu ke waliNya Allah yang sudah meninggal dunia :

1. Jika sudah nyampai makam, saya akan duduk persis di depan makam dengan menghadap ketimur (karena saya merasa cocok dengan pendapatnya Imam Maliki Bin Anas).
2. Saya akan ucapkan salam, sesuai dengan yang telah di ajarkan Rasulullah
3. Lalu saya akan mengajak ngobrol si Waliyullah tersebut, dengan pelan-pelan yang mungkin hanya terdengar oleh telinga saya sendiri, Contoh obrolan saya :

“Alhamdulillah atas Izin Allah swt  saya Ahmad Supriadi bisa datang kesini lagi dan bertemu dengan..... (Nama Waliyullah yang di makamkan), saya datang kesini mengunjungi anda semata-mata yang pertama karena perintah Allah, perintah Allah untuk saling kunjung mengunjungi dan saling mencintai karena Allah, dan Allah mencintai Anda maka saya pun mencintai Anda karena Allah, dan yang kedua karena ini merupakan sunnah dan anjuran dari Rasulullah yang tercinta dan yang ketiga karena saya ingin mendoakan Anda”.

Begitu pula ketika anda mengunjungi seorang alim yang sholeh dan yang masih hidup, anda juga bisa niatkan dalam hati :

“Ya Allah saya ingin mengunjungi (Nama ulama/Kyai yang akan anda kunjungi), itu semata-mata karena perintah Mu ya Allah, perintahMu untuk saling kunjung mengunjungi dan saling mencintai karenaMu ya Allah,  dan yang kedua karena merupakan sunnah dan anjuran dari Rasulullah yang tercinta dan yang ketiga karena saya ingin mendoakanya ya Allah”.

Jadi pada intinya ketika kita melakukan ziarah kepada orang yang sudah meninggal dunia  ataupun kepada orang yang masih hidup, itu kita lakukan semata mata bukan karena kita ingin mendapatkan barokah atau lagi tertimpa  kesusahan, masalah ekonomi , keluarga, punya hajat besar dan lain lain. Tetapi itu kita lakukan semata-mata karena di perintahkan oleh Allah dan anjuran dari Rasulullah yaitu saling kunjung mengunjungi dan mencintai orang-orang yang sholeh karena Allah.

Kalimat “BAROKAH” itu saya ibaratkan, seperti orang makan. Maksudnya ketika orang makan akibatnya akan kenyang, karena itu hukum sebab akibat.  Tanpa anda berniat, mengharap-harap dapat kenyang, jika makan banyak otomatis perut anda akan kenyang. Begitupula sebaliknya jika anda banyak mendoakan orang lain baik yang masih hidup atau mereka yang sudah meninggal dunia anda akan mendapatkan barokah, tanpa anda harus meminta-minta atau mengharap-harap dapat barokah tersebut. Barokah tersebut sudah anda dapatkan secara otomatis.

Jika kulit terbakar api biasanya pastikan panas, jika sesuatu tersiram air biasanya pastikan basah, jika anda tebarkan DOA pastikan dapatkan BAROKAH.  Wallahu ‘alam bishawab
====ooOoo====

BERIKUT KEUTAMAAN SALING MENCINTA  KARENA ALLAH

Rasulullah SAW  bersabda, “Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR at-Tirmidzi).

Cinta karena Allah SWT bahkan menjadi ciri kesempurnaan iman seorang Muslim, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Siapa saja yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia mendatangi rumahnya dan mengabarinya bahwa ia mencintai dirinya karena Allah SWT.” (HR Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd, hlm. 712)

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Rasulullah SAW, misalnya bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW  pun bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Allah berfirman pada Hari Kiamat, ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.’” (HR Muslim).

Rasulullah SAW pun bersabda, sebagaimana penuturan Muadz bin Jabal, bahwa Allah telah berfirman, “Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi).

SEMOGA BERMANFAAT

http://istana99kupu.blogspot.com/

12 September 2014

Hubungan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Degan Gus Dur

Sayyid Abbas Al Maliki : Merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jawatan ini ketika pemerintahan Usmaniah serta Hashimiah, dan seterusnya terus memegang jabatan tersebut setelah Kerajaan Saudi diasaskan. Raja Abdul Aziz bin Sa'ud sangat menghormati beliau.
Riwayat Hidup beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Keluarga Maliki merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulama besar di Makkah, yang telah mengajar di Makkah sejak lama. Lima orang dari keturunan Sayyid Muhammad, telah menjadi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah.
Keluarga Keturunan Sayyid merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Junjungan kita Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Beliau merupakan waris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Makkah yang masyhur yang merupakan keturunan Rasulullah Sallahu 'Alaihi Wasallam, melalui cucu Baginda, Imam Al-Hasan bin Ali, Radhiyallahu ‘Anhum. Keturunan beliau adalah :
1. Sayyid Alawi Bin Abbas Al-Maliki (anak)
2. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (cucu)
Sedangkan salah satu murid Sayyid Abbas Al Maliki yang di Indonesia adalah Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri NU dan PP Tebuireng) yang merupakan kakek dari KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur).
Kisah Nyata dari Pembenci Maulid
Suatu hari Asy Syaikh Abbas Al-Maliki berada di Baitul Muqaddas Palestina untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. Di mana saat itu bershalawat dengan berjamaah. Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu.
Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak pernah mau mengakui acara Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang jelek). Suatu malam ia mimpi duduk di acara Maulid Nabi bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi SAW ke mesjid, maka saat Rasulullah SAW tiba, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri untuk menyambut kehadiran Rasulullah SAW. Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah SAW berkata kepadanya: “Kamu tidak akan bisa bangkit!”
Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama 1 tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika sembuh dari sakitnya ia akan menghadiri acara Maulid Nabi di mesjid dengan bershalawat. Kemudian Allah menyembuhkan nya. Ia pun selalu hadir untuk memenuhi nadzarnya dan bershalawat dalam acara Maulid Nabi SAW..
(Sumber: Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid al-Maulid an-Nabawi, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki)

====ooOoo====

Kebersamaan antara cucu dari Sayyid Abbas Al Maliki dengan cucu dari KHM. Hasyim Asy’ari

Keterangan foto: Kunjungan Gus Dur ke kediaman Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki

KH. Abdurrahman Wahid : Mungkin bagi sebagian orang menyangsikan ada hubungan akrab antara as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Padahal kalau kita mau menengok sejarah, kakeknya, as-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki adalah guru dari kakeknya Gus Dur, Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari sang pendiri NU. Jadi sangat wajar jika hubungan antara Abuya al-Maliki dengan Gus Dur terbilang mesra, sebagaimana hubungan kedua kakeknya dulu.

Suatu hari, Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, berkunjung ke kediaman as-Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekkah. Gus Dur ditemani oleh KH. Said Aqil Siroj dan Ghofar Rahman. Sebagai ulama terkemuka, as-Sayyid Muhammad al-Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. 

Sewaktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri. Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilakan masuk. Bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadi as-Sayyid Muhammad, bukan di ruang tamu (ini merupakan suatu adat/kebiasaan yang biasanya di lakukan untuk menghormati seorang tamu yang di istimewakan). Oleh beliau Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj mengggambarkan:“Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan.”

Tepat di malam Jum’at waktu sahur, as-Sayyid Muhammad al-Maliki menghembuskan nafas terakhirnya. Pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab, namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahandanya, as-Sayyid Alawi al-Maliki.

Beliau wafat hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 1425 H, bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M. Jenazahnya lalu dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulullah Saw, Sayyidah Khadijah al-Kubra Ra.

Berikut DOA ISMUL 'ADHOM
Oleh : Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliki Al-Hasani
اَللَّهُمَّ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، يَاإِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَىْءٍ، إِلَهاً وَاحِداً، لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ، يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الْحَنَّانُ الْمَنَّانُ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ الَّذِي لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الأَحَدُ اَلصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا اَحَدٌ، وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَداً، اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَامَنَّانُ يَابَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ، لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يَاظَاهِرُ يَاقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا اَحَدٌ،َللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ اللهُ الَّذِي لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الْحَنَّانُ الْمَنَّانُ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، أَحْرَزْتُ نَفْسِي بِالْحَيِّ الَّذِي لاَ يَمُوْتَ، وأَلْجَأْتُ ظَهْرِي لِلْحَىِّ الْقَيُّوْمِ، لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ نِعْمَ الْقاَدِرُ، لاَإِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله، إِنَّ اللهَ بَصِيْرٌ بِالْعِباَدِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ۞

Sumber : Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani. Dalam Kitab Abwabul faraj : Jawami' al-Kalim, Cairo: 2000.

11 September 2014

Shalawat Masyisiah


Shalawat Masyisiah
﴿بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم﴾

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ مِنْهُ انْشَقَّتِ اْلاَسْرَارُ، وَانْفَلَقَتِ اْلاَنْوَارُ، وَفِيْهِ ارْتَقَتِ الْحَقَائِقُ، وَتَنَزَلَتْ عُلُومُ سَيِّدِنَا اٰدَمَ عَلَيْهِ السّلاَمُ فَاَعْجَزَالْخَلاَئِقُ، وَلَهُ تَضَاءَلَتِ الْفُهُومُ فَلَمْ يُدْرِكْهُ مِنَّا سَابِقٌ وَلاَ لاَحِقٌ، فَرِيَاضُ الْمَلَكُوْتِ بِزَهْرِ جَمَالِهِ مُوْنِقَةٌ، وَحِيَاضُ الْجَبَرُوْتِ بِفَيْضِ اَنْوَارِهِ مُتَدَفِّقَةٌ، وَلاَ شَيْئَ اِلاَّهُوَ مَنُوْط اِذْ لَوْلاَ الْوَاسِطَةٌ لَذَهَبَ كَمَا قِيْلَ الْمَوْسُوْط، صَلاَةً تَلِيْقُ بِكَ مِنْكَ اِلَيْهِ كَمَا هُوَ اَهْلُهُ، اَللَّهُمَّ اِنَّهُ سِرُّكَ الْجَامِعُ الدَّالُّ عَلَيْكَ وَحِجَابُكَ اْلاَعْظَمُ اْلقَائِمُ لَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ، اَللَّهُمَّ أَلْحِقْنِى بِنَسَبِهِ، وَحَقِّقْنِىْ بِحَسَبِهِ، وَعَرِّفْنِىْ اِيَّاهُ مَعْرِفَةً اَسْلَمُ بِهَا مِن مَوَارِدِ الْجَهْلِ، وَاَكْرَعُ بِهَا مِنْ مَوَارِدِ الْفَضْلِ، وَاحْمِلْنِىْ عَلَى سَبِيْلِهِ إِلَى حَضْرَتِكَ حَمْلاً مَحْفُوْفًا بِنُصْرَتِكَ، وَقْذِفْ بِىْ عَلَى الْبَاطِلِ فَأَدْمَغَهُ، وَزُجَّ بِىْ فِيْ بِحَارِ اْلاَحَدِيَّةِ، وَنْشُلْنِيْ مِنْ اَوْحَالِ التَّوْحِيْدِ، وَأَغْرِقْنِيْ فِيْ عَيْنِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ حَتَّى لاَأَرَى وَلاَ اَسْمَعَ وَلاَ اَجِدَ وَلاَ اُحِسَّ اِلاَّ بِهَا، وَاجْعَلْ حِجَابَ اْلاَعْظَمَ حَيَاةَ رُوْحِىْ وَرُوْحَهُ سِرَّ حَقِيْقَتِىْ وَحَقِيْقَتَهُ جَامِعَ عَوَالِمِيْ بِتَحْقِيْقِ الْحَقِّ اْلاَوَّلِ يَا اَوَّلُ يَاآخِرُ يَاظَاهِرُ يَا باَطِنُ، اِسْمَعْ نِدَائِى بِمَا سَمِعْتَ بِهِ نِدَاءَ عَبْدِكَ زَكَرِيَّا عَلَيْهِ السّلاَمُ، وَانْصُرْنِيْ بِكَ لَكَ، وَاَيِّدْنِيِ بِكَ لَكَ، وَاجْمَعْ بَيْنِىْ وَبَيْنَكَ وَحُلْ بَيْنِىْ وَبَيْنَ غَيْرِكَ الله الله الله، إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ، رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً ٣×، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ وَتَحِيَّاتُهُ وَرَحْمَاتُهُ وَبرَكَاتُهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الْمُبَارَكَاتِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞

Syekh Adussalam bin Masyisy

Syekh Adussalam bin Masyisy : Bagi kebanyakan ulama, bahkan masyarakat bisa di Maroko, nama Maulay Adussalam bin Masyisy sudah tidak asing lagi. Beliau, sebagamana tercatat dalam kitab at Thabaqat as Syadziliyah al Kubro karangan Syekh Hasan bin Muhammad bin Qasim at Tazy. Beliau ini Sayikh Adussalam bin Masyisy merupakan guru dari tiga wali quthub (pemimpin para wali). Tiga wali dimaksud yaitu
1. Syekh Ahmad al Badawi yang juga merupakan murid dari wali quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Syekh Ahmad Rifai
2. Syekh Ibrahim Ad Dusuqi
3. Dan Syekh Abu al Hasan Ali bin Abdillah as Syadzili (Pendiri tarekat Syadziliyah).

Beliau dalam dunia perwali-an masuk kategori “al Ghouts” yang berarti penuntun atau pembimbing kepada kebaikan dan kebagusan, khususunya dalam menuju makrifat kepada Allah SWT., atau ”Quthbul Aqthab” (Pemimpinnya para pemimpin wali).

Maulay Abdussalam bin Masyisy dengan kedalaman ilmu dan kezuhudannya yang tinggi adalah sosok yang sangat tertutup dan tidak ingin di kenal oleh manusia. Hal ini bisa dilihat dari salah satu doa beliau : “Ya Allah aku mohon kepada-Mu agar makhluk berpaling dariku sehingga tidak ada tempat kembali bagiku selain kepada-Mu“. Allah SWT pun akhirnya mengabulkan permohonan beliau tersebut dan karena sangat ketertutupannya itu sampai tidak ada yang mengenal beliau kecuali waliyullah Syeikh Abu al Hasan as-Syadzili.

Perkenalan dan pertemuan agung beliau dengan muridnya, Syeikh Abu al Hasan as Syadzili, berawal saat Syeikh Abul Hasan, yang saat itu di puncak perasaan yang dahsyat untuk bertaqarrub kepada Allah swt. berharap hatinya penuh cahaya ma’rifatullah, mengembara mencari Mursyid yang Quthub. Sampailah beliau ke negeri para wali di Irak. Dari satu wali ke wali lain yang beliau temui belum juga membuatnya puas sebelum bertemu dengan seorang wali quthub  di zaman itu. Padahal dari Maroko Syeikh Abul Hasan menembus ribuan kilometer menuju Irak, mengarungi padang sahara yang luar bisa luasnya, demi mencapai cita-citanya yang luhur.

Akhirnya beliau bertemu dengan salah seorang wali di Irak. ketika itu sang wali yang beliau temui berkata kepadanya: “Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh-jauh sampai di sini. Padahal orang yang engkau cari itu sebenarnya di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah Quthubuz zaman yang agung saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling di negeri ini. Saat ini beliau sedang berkhalwat di puncak gunung di sebuah gua. Temuilah beliau dan cari di sana”

Setelah itu beliau bergegas menuju Maroko dan kembali ke desanya Ghamarah, tempat dimana beliau dilahirkan. Hatinya tak terbendung untuk segera bertemu dengan Sang Quthub yang menetap di pucuk gunung (jabal al ‘alam) itu. Ketika menempuh jalan berliku menuju puncak gunung itu Syeikh Abul Hasan akhirnya bertemu juga dengan Sang Quthub tersebut. 

Kemudian Sang Quthub (Maulay Abdussalam bin Masyisy) memerintahkannya berkali-kali untuk mandi di dekat gua yang kebetulan ada air untuk mandi dan berwudlu, hingga beliau sadar bahwa perintah tersebut untuk mensucikan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan keangkuhan dan kesombongan.

Lalu saat beliau keluar dari bersuci dan menghadap dalam keadaan faqir, dari arah gua itu muncul sosok yang tampak lanjut usia dengan pakaian yang sederhana, dan dengan songkok dari anyaman jerami Seraya berkata, “Marhaban Wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar, dst.. dengan menyebut nasab Syeikh Abul Hasan sampai ke Rasulullah SAW”.

Mendengar itu semua Syeikh Abul Hasan semakin takjub. Belum sempat mengeluarkan kata, Sang Quthub itu melanjutkan, “Wahai Ali, engkau datang kepadaku sebagai fakir baik dari segi ilmu maupun amalmu, maka engkau akan mengambil dariku semua kekayaan, dunia hingga akhirat”. 

Bahkan beliau melanjutkan, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebelum engkau datang ke sini, Rasulullah saw.  telah memberi tahu kepadaku segala hal tentang dirimu, serta akan kedatanganmu hari ini. Selain itu aku juga mendapatkan tugas dari beliau agar memberikan pendidikan dan bimbingan kepadamu. Oleh sebab itu ketahuilah bahwa kedatanganku kemari sengaja untuk menyambutmu…”. (Lihat: al-Quthb as-Syahid Sidi Abdussalam bin Masyisy karya Imam Abdul Halim Mahmud: 16)

Begitulah sedikit gambaran tentang Sang ”Quthbul Aqthab” atau “Al Ghouts”, Maulay Abdussalam bin Masyisy. Beliau adalah Abdussalam bin Masyisy bin Malik bin Ali bin Harmalah bin Salam bin Mizwar bin Haidarah bin Muhammad bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Kamil bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sabth bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra putri Rasulullah SAW. Lahir pada tahun 559 H bertepatan dengan 1198 M dan wafat pada tahun 622 H (1261 M).

Semasa hidupnya beliau memiliki kesungguhan dan kemauan yang keras dalam menuntut ilmu serta menjaga awrad (baca’an-bacaan zikir dan doa) hingga sampai kepada jalan menuju makrifah kepada Allah swt.. Dalam bidang ilmu pengetahuan salah satunya beliau berguru pada Syeikh Ahmad yang di juluki “Aqtharaan”, dimakamkan di daerah Abraj dekat pintu Tazah. Dalam bidang tasawuf di antara para gurunya adalah Syeikh Abdurrahman bin Hasan al-’Aththar yang terkenal dengan “az-Ziyyaat”. Dari beliau Ibnu Masyisy belajar tentang ilmu mua’amalah (interaksi sosial) dengan masyarakat yang sumbernya berakhlak sesuai dengan akhlak baginda Rasulullah SAW.

Meski tidak banyak meninggalkan karangan, namun salah satu warisan yang sangat penting dan berharga dari beliau adalah  teks “Shalawat Masyisyiah”, yaitu sebuah shalawat yang jika kata-katanya berbaur atau di ucapkan oleh ruh maka akan membuat pemilik ruh tersebut terasa melayang di udara dari keluhuran dan keindahan alam malakut. Shalawat yang memiliki banyak rahasia dan keutamaan serta mampu memberikan pancaran cahaya Ilahi bagi para pengamalnya.

Adalah merupakan anugrah bagi penulis ketika bisa menziarahi makam beliau ”Quthbul Aqthab”, Maulay Abdussalam bin Masyisy. Tepat pada hari selasa, 16 April 2013 penulis ikut dalam rombongan Abuya Syeikh Nuruddin Marbu al Banjari yang kebetulan sedang di Maroko dan berniatan ziarah ke makam tersebut. Wallahua’lam bisshawab. (Ali Syahbana/Red:Anam)



Sumber nu.or.id

09 September 2014

Arti Dari Syiir Tanpo Weton Gus Dur

SYI'IRAN GUS DUR

أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا * أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا * وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا

ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ
عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ
Ngawiti ingsun nglaras syi’iran = aku memulai menembangkan syi’ir
Kelawan muji maring Pengeran = dengan memuji kepada Tuhan
Kang paring rohmat lan kenikmatan = yang memberi rahmat dan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan 2X = siang dan malam nya tanpa terhitung

Duh bolo konco priyo wanito = wahai para teman laki laki dan perempuan
Ojo mung ngaji syareat bloko = jangan hanya belajar syari’at saja
Gur pinter ndongeng nulis lan moco = hanya pandai bicara, menulis dan membaca
Tembe mburine bakal sengsoro 2X = esok hari bakal sengsara

Akeh kang apal Qur’an Haditse = banyak yang hapal Al Qur’an dan Haditsnya
Seneng ngafirke marang liyane = (senang mengkafirkan kepada orang lain
Kafire dewe dak digatekke = kafirnya sendiri tak dihiraukan
Yen isih kotor ati akale 2X = jika masih kotor hati dan akal nya

Gampang kabujuk nafsu angkoro = gampang terbujuk nafsu angkara
Ing pepaese gebyare ndunyo = dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri lan meri sugihe tonggo = iri dan dengki dengan kekayaan tetangga
Mulo atine peteng lan nisto 2X = maka hatinya gelap dan nista

Ayo sedulur jo nglaleake = ayo saudara jangan sampai melupakan
Wajibe ngaji sak pranatane = kewajiban mengaji serta aturannya
Nggo ngandelake iman tauhide = untuk mempertebal iman tauhid nya
Baguse sangu mulyo matine 2X = bagusnya bekal mulia matinya

Kang aran sholeh bagus atine = Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya
Kerono mapan seri ngelmune = karena mapan lengkap ilmunya
Laku thoriqot lan ma’rifate = menjalankan tarekat dan ma’rifatnya
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X = juga hakikat meresap rasanya

Al Qur’an qodim wahyu minulyo = Al Qur’an qodim wahyu mulia
Tanpo tinulis biso diwoco = tanpa ditulis bisa dibaca
Iku wejangan guru waskito = itulah petuah guru mumpuni
Den tancepake ing jero dodo 2X = ditancapkan di dalam dada

Kumantil ati lan pikiran = menempel di hati dan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan = merasuk dalam badan dan seluruh hati
Mu’jizat Rosul dadi pedoman = mukjizat Rosul (Al-Qur’an) jadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman 2 X = sebagai sarana jalan masuknya iman

Kelawan Alloh Kang Moho Suci = Kepada Allah Yang Maha Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi = harus mendekatkan diri siang dan malam
Di tirakati diriyadohi = diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X = dzikir (mengingat Allah) dan suluk jangan sampai lupa)

Uripe ayem rumongso aman = hidupnya tentram merasa aman
Dununge roso tondo yen iman = mantabnya rasa tandanya beriman
Sabar narimo najan pas-pasan = sabar menerima meski hidupnya pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X = semua itu adalah takdir dari Tuhan

Kelawan konco dulur lan tonggo = terhadap teman, saudara dan tetangga
Kang podho rukun ojo dursilo = yang rukunlah jangan bertengkar
Iku sunahe Rosul kang mulyo = itu sunnahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad panutan kito 2x = Nabi Muhammad tauladan kita

Ayo nglakoni sakabehane = ayo jalani semuanya
Allah kang bakal ngangkat drajate = Allah yang akan mengangkat derajatnya
Senajan asor toto dhohire = Walaupun rendah tampilan dhohir nya
Ananging mulyo maqom drajate 2X = namun mulia maqam derajat nya di sisi Allah

Lamun Palastro ing pungkasane = ketika ajal telah datang di akhir hayatnya
Ora kesasar roh lan sukmane = tidak tersesat roh dan sukma nya
Den gadang Alloh swargo manggone = dirindukan Allah surga tempatnya
Utuh mayite ugo Ulese 2X = utuh jasadnya juga kain kafannya

ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ


Bacaan Istighosah

اَلْاِسْتِغَاثَةُ
 اَللّٰهُمَّ اَنْتَ رَبِّيْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ٬ وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا عَلٰى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ٬ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَاصَنَعْتُ٬ اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ٬ وَاَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ٬ فَاِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ 3x
سُوْرَةُ الْاِخْلَاصِ 7x
سُوْرَةُ الْفَلَق 7x
سُوْرَةُ النَّاسِ 7x
سُوْرَةُ الْفَاتِحَةِ 7x
سُوْرَةُ الْاِنْشِرَاحِ 7x
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 33x
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ 3x
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ 33x
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ اَدْرِكْنِيْ يَارَسُوْلَ اللهِ 33x
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَافِى عِلْمِ اللهِ صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ 33x
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ 33x
لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 33x
لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ 33x
يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ 33x
يَاحَفِيْظُ يَانَصِيْرُ يَاوَكِيْلُ يَااَللهُ 33x
يَاهَادِيْ يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرُ يَامُبِيْنُ 33x
يَاوَهَّابُ يَارَزَّاقُ يَافَتَّاحُ يَاعَلِيْمُ 33x
يَااَللهُ يَاقَدِيْمُ يَاسَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ 33x
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِالَّذِيْ تَنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاِتِم وَيُسْتَسْقَى اْلغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفْسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمِ لَكَ 3x

اَلْفَاتِحَةْ ...