Loading...
04 December 2013

Manusia Sempurna Menurut Al-Qur'an

Suatu hari ibnu Abbas mengunjungi Aisyah untuk menanyakan ; Ya  Aisyah, ada seorang laki laki yang sedikit bangunya dan banyak tidurnya, kemudian ada lagi orang yang sedikit tidurnya dan banyak bangunya, mana yang kau sukai kelakuanya  ya Aisyah ?, Aisyah menjawab, saya bertanya kepada Rasul sebagaimana kau bertanya kepadaku, dan jawab Rasul ; “ yang paling baik dari keduanya adalah orang yang paling baik akalnya”. Dan salah satu hadist Nabi juga menyatakan “sebaik baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain”,. Dan Menurut hadist lainya lagi “Manusia yang sempurna adalah yang paling baik ahlaknya (moral/kelakuanya)”.

Dan kita sebagai umat muslim sendiri harus mengetahui dan sadar dengan sesungguhnya bahwa kita (umat Nabi Muhamad) sebagai“umat pilihan yang paripurna”. Dan itu sendiri sudah di tetapkan Allah jauh jauh hari sebelum Allah menciptakan dunia ini, seperti dalam Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imron ayat 110;
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ.
Artinya :
“kamu adalah umat terbaik yang muncul (di tengah tengah) manusia, yang menyeru kepada kebaikan dan melarang perbuatan yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman , tentu itu lebih baik bagi mereka; sebagian (kecil) di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka orang orang yang fasiq (QS Ali-Imran [3]:110).

B. Kaitan dengan Ayat Sebelumnya
1. Ayat sebelumnya (3:105) menyerukan agar mu`min jangan meniru orang yang berpecah belah, sebab bakal menimbilkan keseihan di akhirat kelak (Qs.3:106-107). Oleh karena itu hendaklah membangun umat yang setiap anggotanya menjalankan tugas sesuai bagian masing-masing sebagaimana diserukan pada ayat 104. Ayat 110 ini mengungkapkan bahwa umat yang tampil di depan manusia menjalankan amar ma’ruf nahy munkar berdasar iman, merupakan umat yang terbaik, umat yang terpilih.
2. Ayat sebelumnya mengecam ahl al-Kitab yang bercerai berai dalam menanggapi diutusnya Nabi Muhammad SAW. ayat selanjutnya menjamin, jika ahl al-Kitab itu beriman, maka akan menjadi umat yang terbaik pula.

C. Tinjauan Historis
Diriwayatkan bahwa Malik bin al-Dayif dan Wahb bin Yahudza yang keduanya keturunan yahudi berkata kepada Ibn Mas’ud, Mu`adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’b  ديننا خير مما تدعونا إليه ونحن افضل منكم agama kami lebih baik dari agama yang kalian da’wahkan, bangsa kami lebih unggul di banding kalian. Tidak lama kemudian turunlah Qs.3:110 ini sebagai bantahan terhadap mereka.[1] Umat yang terbaik, setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebqagai rasul, bukanlah yahudi atau nahrani, tapi umat Islam.

D. Tafsir Kalimat
 1. كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ Kamu adalah umat yang terbaik
Perkataan كُنْتُمْ berasal dari كَانberma’na keadaan, dan تُم berasal dari أنْتُم yang berarti kamu sekalian. Siapakah yang dikasud dengan أنْتُم yang berarti kamu sekalian pada ayat ini? Ibn al-Jauzi, yang menurutnya bersanadkan pada Ibn Abbas, berpendapat (1) انهم أهل بدر tentara muslim yang ikut perang Badar, (2) انهم المهاجرون al-Muhajirun (kaum muslimin yang ikut hijrah dari Mekah ke Madinah), (3) جميع الصحابة seluruh shahabat Rasul, (4) جميع امة محمد صلى الله seluruh umat Nabi Muhammad yang beriman.[2]  Sedangkan خَيْرَ berarti terpilih, dan terbaik. Namun seperti diungkap dalam bahasan terdahulu, kategori baik yang diistilahkan خَيْر adalah yang dianggap baik dan terpilih secara syari’ah, walau mungkin oleh sebagian manusia tidak dianggap sebagai kebikan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa kaum muslimin itu menjadi umat terbaik, dan terpilih. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud terbaik atau terpilih di sini, utamanya di sisi Allah SWT.[3] Menurut Abu Hurairah, yang dimaksud خَيْرَ أُمَّةٍdi sini adalah خير الناس للناس sebaik-baik manusia untuk manusia.[4] Jika ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya (Qs.3:102-104), dapat difahami bahwa yang menjadi umat terpilih itu adalah yang memenuhi kriteria (1) iman, (2) taqwa, (3) membela Islam, (4) berpegang teguh pada tali Allah, (5) berjamaah, (6) menjaga kesatuan ukhuwah, (7) mensyukuri ni’mat, (8) menjauhi permusuhan, (9) berda’wah, (10) amar ma’ruf, (11) nahy munkar.

2. أخْرِجَتْ لِلنَّاسِ  yang dilahirkan untuk manusia,
Perkataan أُخْرِجَتْ asal artinya adalah dikeluarkan, menurut al-Jalalain adalah أُظْهِرَت ditampakkan, ditampilkan, atau dizhahirkan لِلنَّاسِ untuk manusia.[5] Sifat ini merupakan syarat agar menjadi umat terbaik mesti tampil di hadapan manusia, eksistensinya nampak. Eksistensi tersebut tentu saja dalam memberi manfaat untuk manusia lain, bukan menjadi beban mereka. Rasulul saw. bersabda: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِmanusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi yang lainnya.Hr.al-Thabarani.[6] Redaksi lainnya berbunyi  خير الناس أنفعهم للناس Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”Hr. al-Qadla`iy.[7] Kehidupan manusia agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera yang disebut الْمُفْلِحُون pada ayat 104, membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, manusia mu`min akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang dilakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Peranan أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِjuga berma’na tampil menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan yang lebih baik.

3. تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ menyuruh kepada yang ma`ruf,
Keritera umat terbaik berikutnya adalah memerintah yang ma’ruf. Seperti dikemukakan pada bahasan yang lalu, peranan ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah. Oleh karena itu menjadi manusia terbaik mesti memiliki kekuasaan untuk memerintah yang ma’ruf. Semakin tinggi kekuasaannya untuk amar ma’rum semakin mulia kedudukannya sebagai umat pilihan. Semakian sering beramar ma’ruf semakin tinggai derajatnya bakal diraih. Perhatikan hadits berikut: 

عَنْ دُرَّةَ بِنْتِ أَبِي لَهَبٍ قَالَتْ قَامَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَؤُهُمْ وَأَتْقَاهُمْ وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ  

diriwayatkan dari Darrah binti Abi Lahab, seorang laki-laki menghadap Rasul SAW tatkala berada di atas mimbar. Orang itu bertanya Wahai Rasul manusia seperti apakah yang terbaik itu? Rasul bersabda: Manusia terbaik adalah yang paling baik dalam membaca al-Qur`an, yang paling taqwa, paling bagus amar ma’ruf, paling banyak nahy munkar, dan baik baik dalam menjalin silaturahimnya. Hr. Ahmad.[8] Dan dalam riwayat lain ada tambahan أفْقهُهُم فِي دين الله paling faham dalam bidang agama Allah SWT.
Secara garis besarnya, essensi hadits tersebut dalam digambarkan seperti berikut:

4. وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر dan mencegah dari yang munkar,
Keriteria manusia terbaik berikutnya adalah nahy munkar, yaitu mencegah kemunkaran.

Rasul SAW bersabda:
 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ  

barangsiapa yang melihat kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah mengubahnya dengan lisan. Jika tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam hati. Namun yang terakhir ini adalah orang yang paling lemah imannya. Hr.Msulim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi. [9]

Berdasar hadits ini, orang yang paling tinggai derajat imannya adalah yang bisa memberantas kemunkaran dengan tangan, alias kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya dalam memberantas kemunkaran, melainkan hanya dalam hati, maka paling lemah imannya. Semakin berkuasa memberantas kemunkaran, semakian tinggi dan kuat imannya. Semakian rendah kualitas dalam memberantas kemunkaran maka semakin rendah pula nilai keimanannya. Dalam riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda:

إنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ الله بِعِقَابِه

Sesungguhnya manusia yang jika melihat kemunkaran dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan siksaan-Nya secara keseluruhan. Hr. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Majah. [10]

5. وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ  dan beriman kepada Allah.
Keriteria manusia terbaik yang laing pokok adalah beriman jepada Allah. Yang dimaksud beriman pada Allah tentu saja mencakup atas segala yang mesti diimani berdasar apa yang diajarkan-Nya. Keimanan baru dianggap bnar apabila mengimani seluruh apa yang mesti diimani yaitu enam rukunnya. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa rukun iman itu adalah enam.
Rasul SAW bersabda: 

أنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

 iman adalah beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad.[11] 

Dengan demikian kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan definsi iman denganالتَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.

6.  وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُم  Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka;
Jika ahl al-Kitab itu beriman sebagaimana mestinya termasuk mengimani Rasul SAW dan ajaran yang dibawanya, maka mereka akan menjadi umat terbaik pula. Tegasnya yahudi nashrani, atau pun bani Isrta`il lainnya, saat ini tidak menjadi manusia terbaik lagi, kecuali yang telah beriman kepada enam rukunnya, menjadi muslim yang menjalankan al-Qur`an dan sunnah Rasul SAW. Jika berbagai ayat mengungkapkan bahwa Bani isra`il itu telah diangkat derajatnya di atas bangsa lain, maka jelaslah yang beriman. Sejak Rasul SAW diutus maka derajat manusia tidak dibedakan oleh ras atau keturunan mana, melainkan ditentukan oleh derajat keimanan dan ketaqwaannya. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak mau beriman kepada Rasul SAW, maka tidak meraih derajat terbaik, sebqai mana ditegaskan pada pengunci ayat.

7. مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ  di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
Ada di antara ahl al-kitab yang beriman seperti di jaman Rasul SAW antara lain Abd Allah bin Salam, Asad, Usaid bin Ka’ab. Namun kebanyakan di antara mereka ada yang fasiq. Bahkan ada yang menjadi musuh Islam serta memerangi kaum muslimin. Di antara ahl al-Kitab yang sangat memusuhi Islam adalah Ka’b bin Asyraf, Huyay bin Akhthab.

E. Beberapa Ibrah
1. Umat Islam adalah umat yang terbaik karena eksistentsinya nampak di hadapan manusia, selalu amar ma’ruf dan anhy munkar yang dilandasi iman dengan sebenar-benarnya iman.
2. Siapa pun tidak akan meraih derajat sebagai umat terbaik atau khaira ummah kecuali yang beriman, eksis di hadapan manusia, amar ma’ruf dan nahy munkar.
3. Ahlul kitab seperti Bani isra’il akan menjadi baik bila mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi Muhammad SAW dan al-Qur`an. Di antara mereka ada yang beriman, tapi kebanyakan fasiq, sehingga bani isra`il tidak lagi memiliki kelebihan di banding bangsa lain.

 Penjelasan :

Dan berikut ini adalah pembahasan singkat mengenai ayat di atas menurut ulama ahli tafsir dan ulama ulama lainya:
Lafadz kana sewaktu waktu bisa tammah atau naqish bahkan zaidah, para ahli tafsir berihtilaf mengenai kata tersebut dengan beberapa pendapat :
1. Kana tammah maknanya wuku’ artinya telah tiba dan hudustartinyatelah ada/datang, maka kana tersebut tidak membutuhkan khabar, karena itu khairu ummah memiliki makna hal artinya keadaan dan ini merupakan pendapat sebagian besar ulama’ ahli tafsir.
2. Kana naqish, maka lafadz tersebut mengandung pernyataan ; kata kana adalah suatu ibarat (pembahasan) keadaan yang lalu atas jalan menyamarkan , dan tidak menunjukkan suatu putusan yang baru (masa lampau), sehingga ternyata kalian di lauhul mahfud sebagai  khairu ummah.
3. Kana zaidah(penambah), sebagian ahli sastra arab mengatakan menyimpan atau mendhohirkan kana adalah sama, kecuali sebagaita’kidartinya memperkuat.
4. Kemungkinan keempat kana dengan makna sharabermaknajadi/jadilah, sehingga ketika manusia memerintahkan kepada suatu kebajikan dan melarang perbuatan yang munkar, maka jadilah kalian sebagai khairu ummah.


 Kandungan isi dari Qs Ali imran 3:110
1. Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan perintahNya, dan melarang mereka dengan sebagian lagi, serta menakuti mereka agar mereka tidak menyekutukan Allah seperti ahli kitab karena pembangkanganya dan kedurhakaanya, setelah itu di jelaskna pahala pahala orang orang yang taat, dan siksaan bagi orang orang kafir. Allah memberikan tanggung jawab kepada orang yang beriman untuk mampu melaksanakan perintah dengan penuh kepatuhan dan ketaatan dan Allah melarang pembangkangan  dan kemaksiatan.
2. Selanjutnya Allah mengikutkan  ketentuan ketentuan tadi degan jalan meminta tanggung jawab kaum mukmin atas kepatuhan dan ketaatan, sesui dengan firman Allah “Kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia”.
3. Sesungguhnya Allah telah mempersiapka Umat Muhammad sebagai umat yang terbaik sejak di lauh mahfudh, oleh karena itu kalian tidak layak membatalkan keutamaan ini atas diri kalian, dan juga tidaklah pantas menghilangkan keutamaan terpuji ini, dengan ketentuan lain, artinya kalian harus tetap patuh dan taat terhadap setiap taklif.
4. Sesungguhnya Allah telah menceritakan kehancuran dan kecelakaan orang orang kafir melalui firmaNya “Adapun orang orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka di katakan) kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakan adzab kekafiranmu itu” (QS Ali Imran 3:106). Selanjutnya kesempurnaan kebahagiaan orang orang yang beriman, dengan firmanNya “Adapun orang orang yang menjadi putih berseri mukanya, mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya” (QS Ali imran 3:108).
Wa Allahu a’lam bi shawab

[1] Ibn al-Jawzi (508-597H), Zad al-Masir, I h.438, al-Asqalani (773-852H), al-Ijab fi Bayan al-Asbab, II h.733
[2] Zad al-Masir, I h.438
[3] Ibn al-Manzhur, Lisan al-Arab, XIII h.366
[4] Shahih al-Bukhari, IV h.1660
[5] Tafsir al-Jalalain, I h.81
[6] al-Mu’jam al-Kabir, XI h.84
[7] Musnad al-Syihab, IV h.365
[8] Musnad Ahmad, VI h.432
[9] Shahih Muslim (w.261), I h.69 , Sunan Abu Daud (w.275), I h.296, dan  Sunan al-Tirmidzi (w.279) IV h.469,
[10] Hr. Ibn Abi Syaibah (w.235), VII h.505 dan Sunan  Ibn majah (w.275), II h. 1327
[11] Musnad Ahmad, no.186

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP