Loading...
12 June 2016

Belajar bersama Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari

HADRATUS SYAIKH MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI
Terjemah Kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’alim” Karya Hadlratus Syaikh

Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Rahimahullahu Ta’ala adalah salah satu tokoh dari sekian banyak ulama’ besar di Indonesia. Biografi tentang kehidupan beliau telah banyak ditulis. Beliau dididik dan tumbuh berkembang di lingkungan pesantren. Bahkan sebagian besar waktu beliau dihabiskan untuk belajar dan mengajar di pesantren dan beliau juga banyak mengatur kegiatan yang sifatnya politik dari pesantren.

Pemikiran pendidikan Hadratus Syaikh sejatinya lebih menitik beratkan pada persoalan hati. Sehingga yang menjadi perhatian dalam menuntut ilmu adalah yang  pertama niat yang tulus dan yang kedua semata-mata hanya mengharap ridla Allah swt.

Di sisi lain, pemikiran beliau adalah mengetengahkan nilai-nilai estetis yang bernafaskan sufistik. Hal ini nampak  dalam pandangan  beliau  bahwa  keutamaan  ilmu yang s angat  istimewa adalah bagi orang yang benar-benar lillahi  ta'ala.

Di sampingitu, ilmu dapat diraih bilamana orang yang mencari ilmu tersebut suci dan bersih dari segala macam sifat yang tercela dan juga  aspek-aspek duniawi
Hadratus Syaikh  memandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak lepas dari pendidikan akhlak atau moralitas. Sehingga penekanan terhadap moralitas adalah tujuan utama dalam kaitannya dengan pendidikan, baik pendidikan secara formal maupun informal.

Dengan demikian, terlihat jelas bahwa sosok Hadratus Syaikh mempunyai  perhatian  khusus terhadap  penyebaran  ilmu dan  pendidikan. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan sarana penting dalam mensosialisasikan keutamaan dan kebersihan jiwa serta pikiran, termasuk sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim keseluruhannya meliputi 8 bab yaitu :
1.       Keutamaan ilmu dan keilmuan
2.       Etika seorang murid dalam belajar
3.       Etika murid terhadap guru
4.       Etika murid terhadap pelajaran
5.       Etika seorang guru terhadap pribadinya sendiri
6.       Etika guru saat mengajar
7.       Etika guru terhadap murid
8.       Etika terhadap sumber ilmu (kitab) atau literatur dalam proses pembeljaran

Hadratus Syaikh mengawali pembahasan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim dengan mengutip ayat Al Qur’an dan Hadith kemudian barulah dijelaskan dengan singkat dan jelas. Tujuan dari didapatkannya ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Sehingga ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat bagi orang lain sebagai bentuk amal jariyyah bagi kehidupan di akhirat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu yaitu seorang murid harus benar-benar memiliki hati yang suci, jangan mengharapkan hal-hal duniawi apalagi menyepelekan suatu ilmu. Serta bagi seorang guru, hal-hal yang harus diperhatikan yaitu meluruskan niatnya dalam mengajar, tidak mengharapkan imbalan dan materi, serta yang diajarkan harus sesuai dengan perbuatannya.

Belajar adalah suatu proses ibadah untuk mendapatkan ridho Allah swt untuk mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, bukan hanya menghilangkan kebodohan tetapi juga dengan niatan yang suci untuk melestarikan nilai-nilai keislaman.

Di dalam bab awal, KH Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’alim menerangkan bahwa keutamaan menuntut ilmu yaitu mempunyai derajat yang tinggi. Hal ini termaktub dalam surah Al Mujadalah ayat 11 yang artinya “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang beerilmu beberapa derajat”( Al Mujadalah : 11).
Hal-hal yang menjadi fokus dalam kajian kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim, dapat dikelompokkan menjadi 4 kajian utama yaitu etika seorang guru terhadap pribadinya sendiri, etika seorang guru di dalam proses belajar mengajar, etika seorang guru terhadap murid, dan etika terhadap alat pembelajaran/literatur.

Kitab Adab al Alim wa al Muta’allim fima Yahtaj ilah al Muta’alim fi Ahuwal Ta’allum wa ma Yataqaff al Mu’allim fi Maqamat Ta’limih. Tatakrama pengajar dan pelajar. Berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik, diterbitkan oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng. Di akhir kitab terdapat banyak pengantar dari para ulama, seperti :
1.       Syaikh Said bin Muhammad al-Yamani guru di Masjidil Haram, Imam bermadzhab Syafii
2.       Syaikh Abdul Hamid Sinbal Hadidi guru besar di Masjidil Haram, bermadzhab Hanafi
3.       Syaikh Hasan bin Said al-Yamani guru besar Masjidil Haram
4.       Syaikh Muhammad Ali bin Said al-Yamani

To be Continued..............

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP