Loading...
21 May 2014

Amalan Agar Supaya Didoakan Para Malaikat Allah

سُورَة الْأَنْعَام
SURAT AL-AN’AM
(Binatang Ternak)

Surah al-An’am adalah surah ke-6 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum Hijrah.

Dinamakan al-An’am (Hewan Ternak) karena di dalamnya disebut kata al-An’am dalam hubungan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut. Menurut sejumlah riwayat, keseluruhan ayat-ayatnya turun sekaligus. Pakar hadits, at-Tabrani meriwayatkan, surah ini diantar oleh 70.000 malaikat dengan alunan tasbih.

Memang banyak riwayat menyatakan seluruh ayat ini turun sekaligus. Persoalan yang diinformasikan riwayat itu bukan persoalan ijtihad/nalar tetapi sejarah, bukan juga persoalan yang berhubungan dengan hawa nafsu yang dapat mengantar kepada penolakannya, yang bisa menjadikannya memiliki kelemahan. Karena itu, riwayat-riwayat tentang turunnya seluruh ayat surah ini sekaligus pastilah mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Turunnya sekaligus ayat surah ini, tidak dijadikan riwayat sebab nuzul beberapa ayat ditolak.

Dengan demikian, pada hakikatnya surah ini bertujuan memantapkan tauhid dan ushuluddin, sekaligus memantapkan kewenangan Allah swt., dalam segala persoalan. Dari sini pula wajar jika dia turun sekaligus, tidak bertahap.

Adapun pokok-pokok isi yang terkandung dalam surah seperti pada ayat 108 adalah larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah, dan larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Dalam hal ini yang menjadi batasan masalah adalah kita sebagai muslim janganlah mencaci maki tuhan-tuhan berhala kaum musyrik karena hal tersebut akan menimbulkan dendam dan permusuhan kaum musyrik dengan mencaci maki Allah.

TAFSIR SURAT AL-AN’AM AYAT 1 – 6

بسم الله الرحمن الروحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (al-An’am ; 1)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi,
Allah Ta’ala berfirman dengan memuji diriNya yang mulia, menyanjung diriNya atas penciptaan makhlukNya, langit, dan penciptaan bumi sebagai tempat tinggal untuk hamba-hambaNya.

وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ
dan mengadakan gelap dan terang
Dia menjadikan pula adanya gelap dan terang yang bermanfaat bagi hamba-hambaNya baik pada malam hari maupun siang hari.

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata gelap atau kegelapan dengan bentuk jamak (الظُّلُمَاتِ) sedangkan Dia menyebutkan kata terang dengan bentuk tunggal (النُّور). Yang demikian itu karena kemuliaannya, yaitu bahwa satu cahaya lebih mulia daripada banyaknya kegelapan.  Hal ini sama halnya dengan penyebutan kata kanan (الْيَمِين) dengan bentuk tunggal, dan kata kiri (الشَّمَائِل) degan bentuk jamak dalam firman Allah surat an – Nahl ayat 48 ;

عَنْ الْيَمِين وَالشَّمَائِل
ke kanan dan ke kiri
Dan juga firman Allah surat … yang menyebutkan jalan lurus (صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا) dengan bentuk tunggal, sedangkan penyebutan jalan lain selain jalan lurus itu dengan bentuk jamak (السُّبُل).

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُل فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيله
Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya (al-An’am ; 153)

Setelah penjelasan ringkas dan jelas tentang penciptaan langit dan bumi, terang dan kegelapan, kemudian Allah berkata :

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka
Dengan firman Allah di penutup ayat 1 surat al-An’am ini, Allah berkata bahwa dengan semua penjelasan itu, sebagian hambaNya tetap saja kafir. Mereka menjadikan sekutu – sekutu dan tandingan – tandingan bagi Allah. Mereka juga menjadikan Allah memiliki istri dan anak. Maha Tinggi Allah dari semua anggapan itu setinggi-tingginya.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (al-An’am ; 2)

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah,
Yang dimaksud dengan menciptakan kamu dari tanah ini yakni Adam, yang merupakan nenek moyang dan asal mereka. Bermula Adamlah kemudian mereka lahir dan tersebar di timur dan barat.

ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَل مُسَمًّى عِنْده
sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya),
Tentang firman Allah ini, Sa’id bin Jubair berkata, dari Ibnu Abbas :

ثُمَّ قَضَى أَجَلًا
sesudah itu ditentukannya ajal, yaitu ajal kematian.

وَأَجَل مُسَمًّى عِنْده
dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya, yakni akhirat. Demikian diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, Athiyyah, As-Suddy, Muqatil, Ibnu Hibban, dan selain mereka.
Dari Ibnu Abbas dan Mujahid tentang ayat tersebut :

ثُمَّ قَضَى أَجَلًا
sesudah itu ditentukannya ajal, yaitu masa dunia

وَأَجَل مُسَمًّى عِنْده
dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya, yaitu umur manusia sampai matinya.
Penafsiran seperti itu seakan mengambil dari firman Allah :

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (al-An’am ; 60)
Sedangkan firman Allah :

وَأَجَل مُسَمًّى عِنْده
dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya
Firman Allah عِنْده yang berarti disisiNya, berarti tidak ada yang mengetahuinya (tentang ajal itu) kecuali Dia.
Sebagaimana Firman Allah

إِنَّمَا عِلْمهَا عِنْد رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ
Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (al-A’raf ; 187)
Dan juga firmanNya

يَسْأَلُونَك عَنْ السَّاعَة أَيَّانَ مُرْسَاهَا فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا إِلَى رَبّك مُنْتَهَاهَا
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). (an-Nazi’at ; 42 – 44)

ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
Kemudian kamu masih ragu-ragu.
As-Suddy serta yang lainnya mengatakan bahwa maksudnya adalah : kamu sekalian masih meragukan tentang hari kiamat.

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
Dan dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (al-An’am ; 3)

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ
Dan dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi
Yakni Dialah Tuhan yang diseru, disembah baik di langit maupun di bumi. Dialah yang disembah dan diesakan, diakui sebagai Tuhan yang berhak diibadahi oleh semua yang ada di langit dan di bumi. Mereka menyembahNya dengan rasa takut dan pebuh harap, kecuali sebagian dari golongan jin dan manusia yang kafir.
Sebagaimana firman Allah

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاء إِلَه وَفِي الْأَرْض إِلَه
Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi (az – Zikhruf ; 84)
Yakni Dialah Tuhan yang berhak disembah oleh semua yang ada di langit, dan Dia pula Tuhan yang berhak disembah oleh seluruh yang ada di bumi

يَعْلَم سِرّكُمْ وَجَهْركُمْ
Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan

وَيَعْلَم مَا تَكْسِبُونَ
dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.
Yakni Dia Maha Mengetahui semua amalanmu, yang baik maupun yang buruk.

Referensi  : AL-MISHBAHUL MUNIR Fi Tahdzibi Tafsir Ibn Katsir Lil Imam al jalil ‘Imaduddin Abi al Fida Isma’l bin ‘Umar bin Katsir I’dadu jamaatin minal ‘Ulama Bi isyrafi Syaikh Shafiyyurrahman

KEUTAMAN DARI MEMBACA TIGA AYAT PERTAMA DARI SURAT AL-AN’AM

Amalan agar Didoakan Para Malaikat - Berikut ini amalan yang dapat diamalkan yang bagi si pengamal akan mendapatkan karunia ataupun keberuntungan sangat besar tak terkira. Bagaimana tidak, bagi si pengamal  yang mengamalkan amalan ini maka ia akan didoakan para malaikat. Dan tentunya, doa malaikat akan senantiasa dikabulkan oleh Allah. Karena itu mari kita berikhtiar dengan memperbanyak diri dengan berdoa dan melakukan ibadah-ibadah dengan sebaik-sebaiknya agar mendapatkan ridha Allah, malaikat dan nabi-nabiNya.  Berikut amalan yang dimaksud: Yaitu membaca dengan istiqamah, surah al-An'am, terutama 3 ayat pertama  (Dikutip dari Kitab : Khazinatul Asrar)

Dari anas bin malik berkata : Rosulullah saw bersabda:
“Surat al an’am diturunkan bersama iring iringan malaikat yang menutupi arah barat dan timur sambil menyairkan tasbih sehingga menutupi bumi. Dan rasul pun mengucap maha suci tuhanku yang maha agung 3x.


Surat al an’am tidak diturunkan secara berangsur angsur seperti surat surat lainya,namun surat al an’am diturunkan sekaligus.

Addarimi meriwayatkan musnadnya dari umar bin khatab ra berkata : surat al an’am adalah termasuk surat pilihan, dan merupakan pembukaan kitab taurot,sedangkan penutub taurot adalah surat hud.

Ibnu abbas mengatakan: ketiga ayat itu diturunkan Allah sendiri untuk memuji zatNYA sendiri sebagai sanggahan dari segolongan manusia bahwa Allah mempunyai anak,dan anggapan bahwa malaikat adalah putri Allah(HR.ibnu jarir)

Ats Tsalabi meriwayatkan dari jabir dari Nabi SAW bersabda:
Barang siapa membaca tiga ayat permulaan surat al an’am maka Allah mewakilkan 40 ribu malaikat agar mencatat kebaikan ibadah mereka untuk dia sampai hari kiamat.
Dan turunlah malaikat dari langit ke tujuh yang membawa tongkat besi, bila syaithon hendak menggodanya maka alloh memerintahkan malaikat itu agar memukulnya,maka antara mereka dan setan terdapat 70 benteng. Apabila hari kiamat telah tiba maka ALLaH yang maha berkah dan maha luhur berfirman”berjalanlah pada naunganKu,pada hari itu tidak ada naungan kecuali naunganKu.Dan makanlah dari buah buahan surgaKU,minumlah dari telaga kautsar dan mandilah dengan air salsabil,maka kau adalah hambaku dan AKU adalah Tuhanmu.


Al-‘Aufi, Ikrimah, dan ‘Atha meriwayatkan dari Ibnu Abbas : Surat Al-An’am diturun kan di Makkah.

Ath-Thabrany meriwayatkan dari Ibnu Abbas : Surat Al-An’am turun di Makkah pada waktu malam hari dengan sekaligus, dan bersama turunnya diiringi 70.000 Malaikat yang mengumandangkan tasbih di sekiarnya.

As-Suddy meriwayatkan dari Murrah dari Abdullah : Surat Al-An’am turun dengan diiringi 70.000 Malaikat.

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP