Loading...
11 May 2014

Keutamaan Dari Ayat Kursi


ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN 'ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI'A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL 'ALIYYUL AZHIIM.

Artinya : Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)


Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam selepas Hijrah. Menurut riwayat, ketika ayat kursi diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai penghantarnya, karana kebesaran dan kemuliaannya. Setan dan Iblis menjadi gempar karana adanya suatu alamat yang menjadi perintang dalam perjuangan nya. Rasulallah saw segera memerintah kepada penulis alQuran iaitu Zaid bin Thabit agar segera menulisnya dan menyebarkannya.

Terdapat  sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan keutamaan  ayat kursi.  Sebabnya ayat ini disebut ayat kursi karana di dalam nya terdapat perkataan kursi, yang artinya tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai martabat. Perlu di ingat yang di maksudkan dengan kursi  dsini bukanlah tempat duduk  Allah swt, tetapi adalah kursi itu syiar atas kebesaran, keluarbiasaan, keluasan kekuasaan Allah aza wajalla.

Khasiat Ayat Kursi:
  1. Barang siapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai shalat fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah atau kepasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, Insya Allah akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (pemerintah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang yang membahayakan. Terpelihara dirinya dan keluarganya, anak-anak nya, hartanya, rumahnya dari pencurian, kebakaran dan tenggelam.
  2. Terdapat keterangan dalam kitab Assarul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan membaca ayat kursi, setiap kali membaca sebanyak 18 kali, inyaallah ia akan hidup berjiwa tauhid, dibukakan dada dengan berbagai hikmat, dimudahkan rezekinya, dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan izin Allah swt.
  3. Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi Lababah ra, membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari ada benteng pertahanan Rasulallah saw.
  4. Syeikh Abul ‘Abas alBunni menerangkan: “siapa saja yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka inysyaallah tuhan mencerdaskan akalnya dan memudahkan faham pada pelajaran yang dipelajari.
  5. Barang siapa yang membaca ayat Kursi selepas shalat  fardhu, Allah  akan mengampunkan dosanya. Siapa  saja yang membacanya ketika hendak tidur, terpelihara dari gangguan syaitan, dan siapa yang membacanya ketika ia marah, maka akan hilang rasa marahnya.
  6. Syeikh Imam Ibnu Abbas Ali Al Bunni  menerangkan:  barang siapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka Insya Allah, Allah akan memberi pertolongan dalam segala hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya.
  7. Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mewakilkan dua malaikat yang menjaga selama tidurnya sampai pagi.
  8. Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan pelindung syaitan.
  9. Syeikh Imam Ibnu Abbas Ali Buni menerangkan:  barang siapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran denga nisyarat nafas sambil membaca ayat Kuris. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanayk 170 kali, Insy Allah dengan izinNyamusuh tidak akan melihatnya dan tidak akan membahyakanya.
  10. Barang siapa membaca ayat Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT    mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.
  11. Barang siapa membaca ayat Kursi di akhir tiap-tiap shalat fardhu, Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati orang yang bersyukur, setiap perbuatan orang yang benar, pahala nabi, serta Allah melimpahkan rahmat padanya.
  12. Barang siapa membaca ayat Kursi di akhir sembahyang, Allah SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.
  13. Barang siapa yang membaca ayat Kursi ketika dalam kesempitan niscaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.
  14. Ayat Kursi yang dibaca dengan penuh khusyuk, insya-Allah akan menyebabkan syaitan dan jin terbakar.
  15. Jika anda berpindah ke rumah baru/menempati rumah baru maka pada malam pertama anda berada dalam rumah itu sebaiknya anda membaca ayat Kursi 100 kali, insya-Allah mudah-mudahan anda sekeluarga terhindar daripada gangguan lahir dan batin.
16.   Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahwa;  barang siapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi  Allah, demi Rasul, demi alQuran yang mulia, Allah swt  akan membukakan baginya pandangan ruhani, tercapai yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia ( kitab Khawasul Qur’an)

Dalam Shahih Bukhari terdapat suatu kisah sebagai berikut,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَرضى الله عنهقَالَ وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلمبِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ ، وَقُلْتُ وَاللَّهِ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلم – . قَالَ إِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ ، وَلِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ . قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.
. فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلمإِنَّهُ سَيَعُودُ . فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلم – . قَالَ دَعْنِى فَإِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ ، فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً ، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ »
Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.
. فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِصلى الله عليه وسلم، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ . قَالَ دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا . قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلم – « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ . فَقَالَ النَّبِىُّصلى الله عليه وسلم – « أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ » . قَالَ لاَ . قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).
Dalam hadist lain juga di terangkan yaitu sebuah riwayat dari
Anas bin Malik ra berkata : "Rasulullah saw  bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwudhu dan mengerjakan shalat Subuh, niscaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan darjatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur'an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia."

Berkata Anas bin Malik : "Ya Rasulullah, apakah hendak dibaca setiap hari?" Sabda Rasulullah saw, " Tidak, cukuplah membacanya pada setiap hari Jum'at." 


Dari Hasan bin Ali ia berkata telah bersabda Rasulullah saw : barang siapa yang membaca ayat kursi di akhir setiap solat fardhu maka dia berada dalam perlindungan Allah sehingga solat yang lain.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda yang maksudnya : Di dalam surah al-Baqarah  ada satu ayat yang menjadi yang menjadi kepala kepada semua ayat-ayat al-Quran ,tidak dibaca ayat itu di dalam rumah yang ada syaitan di dalamnya melainkan ia keluar daripada rumah itu yaitu ayat Kursi.

Pada suatu hari Saidina Umar al-Khattab Ra keluar melihat orang -orang sedang duduk berkumpul, maka ia bertanya ,"Siapakah di antara kamu yang dapat menerangkan ayat apakah yang terbesar  dalam al-Quran?"Ibn Mas'ud menjawab ,"Anda telah mendapatkan orang yang mengetahuinya , saya telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda : Ayat terbesar dalam al-Quran ialah (permulaan ayat kursi hingga akhir)"  (Hadis Diriwayat Marduyah)

Sabda Rasulullah saw bermaksud :"Bahwa ayat Kursi ini ialah penghulu ayat-ayat al-Quran dan barang siapa yang mengamalkannya maka  akan terpeliharaah ia daripada bala bencana dan daripada gangguan syaitan serta mendapat pahala yang besar" (HR Bukhari dan  Muslim)



kebanyakan dari umat terdahulu tidak mempercayai adanya rasul kecuali mereka bisa melihat mukjizat secara langsung, tetapi itu sendiri  tidak menjamin  mereka akan menyembah Allah dan meninggalkan kepercayaan mereka yang lama, bahkan sebagian mereka memfitnah dengan keji bahwasanya rasul tersebut telah melakukan tipu muslihat dengan sihir-sihir. Sekarang Kita sebagai umat Islam meyakini serta mempelajari, mengamalkan  apa apa  yang telah Allah dan Rasul perintahkan.  Janganlah kita menjadi seperti umat terdahulu yang lebih suka banyak bertanya dan hendak melihat bukti-bukti (mu’jizat) terlebih dahulu sebelum mereka beriman. 

Setiap apa yang di berikan Allah swt dan dianjurkan oleh Rasulullah saw kepada kita itu merupakan suatu kebaikan untuk diri kita sendiri. Begitu pula dengan Rasulullah saw menyuruh kita mengamalkan membaca ayat Kursi itu pasti ada tujuanya dan tujuanya pastinya untuk kebaikan, kebaikan untuk umatnya.  Keistimewaan  ayat kursi ini telah diterangkan dalam banyak hadis, dan telah banyak di buktikan kedahsyatanya oleh para auliya dan sholihin.


Bagi para kaum muslimin yang ingin mewiridkan ayat kursi ini alangkah lebih baiknya, memahami makna yang tersirat (Hakikat) dan makna yang tersurat (arti bahasa) dalam kandungan ayat kursi dengan sebaik-baiknya,  dengan kita mengerti apa yang kita baca/wiridkan maka akan timbulah rasa cinta, tunduk, keyakinan yang kuat akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dengan demikian akan lebih mempercapat akan terkabulnya sebuah doa (keinginan).  

Membaca/mewiridkan ayat kursi, ataupun ayat-ayat, surat-surat  lainya dalam Al-quran itu bukan berarti  jika ayat atau surat selainya itu tidak mengandung keistimewaan dan khasiat, yang kenyataan bahwasanya surat dalam Al-qur’an yang di mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Annas yang kesemuanya berjumlah 114 surat semuaya itu adalah mu’jizat yang luar biasa anugrah dari Allah swt. Bahkan meskipun setan, jin, manusia saling bekerjasama untuk membuat satu ayat yang serupa dengan Al-qur’an mereka tidak pernah sanggup sampai kapan pun.

Al-quran adalah petunjuk hidup, jalan hidup untuk di pelajari, di amalkan dan di ajarkan, Al-quran di turunkan dalam bentuk bahasa arab, tapi bahasa arab yang sempurna yang mempunyai nilai sastra yang luar biasa yang melebihi syair-syair, puisi, raman dan prosa. Itu dari segi bahasa, oleh dari itu untuk bisa mempelajari bahasa Alquran dengan baik di butuhkan alat, dan alat itu berupa pengusaan bahasa arab yang baik yang di tujang ilmu nahwu dan balagah. Ilmu yang ada dalam  Al-quran tiada pernah akan ada habisnya dan tidak akan pernah habis sampai kapan pun.

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP