Loading...
23 September 2014

Inilah syarat untuk menjadi orang sakti

Sekarang di zaman ini tahun 2014 apakah ada seorang Habib, ulama atau Kyai yang mau memberi makan dan bahkan menyuapi orang yang menjadi musuhnya tersebut, terlebih lagi orang itu adalah orang kafir (orang non muslim), dan terlebih lagi jika orang tersebut beragama Yahudi. Saya pribadi sendiri jika mendengar kata Yahudi adalah suatu alergi seperti mendengar kotoran yang najis lagi menjijikkan.

Kita sekarang menyaksikan tayangan di media elektronik dan koran kadang sesama muslim saling bermusuhan/ berantem karena beda partai politik, organisasi dan pemahaman, mudah mensyirikkan, mudah memberi lebel sesat, mudah mengatakan ahli bid’ah sebagai ahli neraka (meskipun itu bid’ah yang baik).

Liat apa yang dilakukan oleh manusia yang paling mulia, yang paling sempurna, yang paling di cintai Allah swt. Nabi memberi makan orang yang jelas-jelas kafir, tidak hanya memberi makan tetapi beliau menyuapi orang kafir tersebut dan orang kafir tersebut beragama yahudi pula. Dan orang kafir tersebut tiada henti-hentinya memfitnah Nabi.

Didalam beragama kenapa kita harus saling hormat menghormati, ini ada kaitanya dengan konsep yang namanya “hidayah”. Sekarang anda menghina orang lain karena mereka kafir yang disebabkan agama mereka (kristen, hindu, budha dll) beda dengan anda, sangking bencinya anda kepada agama orang lain anda sering melecehkan mereka.

Yang jadi pertanyaan saya, apakah anda berani jamin orang yang selama ini anda hina, anda lecehkan dan rendahkan, mereka akan selamanya dalam kekafiran.

Dan sekarang ini anda adalah seorang muslim mukmin yang taat, apakah anda bisa jamin anda akan senantiasa dalam keadaan muslim dan beriman sampai ahir hayat anda.

Hidayah itu adalah hak prerogratif Allah swt, jadi hidayah Allah berikan kepada saja yang Allah kehendaki tanpa ada yang bisa menghalanginya, tanpa memandang agama, suku, agama, ras, dan bangsa. Sekarang anda beragama Islam bisa saja esok anda menjadi kafir, yang sekarang kafir bisa saja besok menjadi orang Islam. Maka jangan suka merendahkan dan menghina orang beda agama dengan kita, karena mereka belum mendapatkan hidayah.

Makanya jika anda ingin benar-benar jadi orang yang sakti mandraguna maka ikutilah ahlak Nabi Muhammad saw, karena beliau adalah suru tauladan yang utama. Dan Nabi kita yang tercinta, Nabi kita yang tersayang, yang senantiasa kita ridukan, yang beliau senantiasa hidup di dalam hati kita. Beliau Nabi Muhammad di utus menjadi Rasul yang terahir itu untuk memperbaiki moral manusia


Kisah Nabi Muhammad saw menyuapi makanan orang kafir buta


Di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis yahudi buta yang selalu berkata kepada orang-orang, “Jangan dekati Muhammad..! Jauhi dia...! Jauhi dia...! Dia orang gila... Dia itu penyihir... Jika kalian mendekatinya maka kalian akan terpengaruh olehnya.”

Tak ada seorang pun yang lewat melainkan telah mendengarkan ocehannya tersebut. Begitu pula pada seseorang yang selalu menemuinya setiap hari di sana, memberinya makanan, hingga menyuapinya. Pengemis buta itu selalu menghina dan merendahkan Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di hadapan orang yang menyuapinya itu. Tapi orang itu hanya diam, terus menyuapi pengemis buta itu hingga makanannya habis.

Hingga akhirnya beberapa saat kemudian Rasulullah wafat. Kesedihan menaungi hati para sahabatnya. Suasana duka pun berlangsung amat lama bagi mereka. Seseorang yang begitu mereka cintai, mereka segani, dan begitu mereka taati telah pergi dari sisi mereka.

Hari-hari mereka lewati begitu berat tanpa Rasulullah. Mereka akan selalu mengenang kebersamaan mereka dengan beliau semasa hidupnya. Mereka tidak akan pernah melupakannya.

Begitulah yang tengah terjadi pada diri Abu Bakar Ash Shiddiq, seorang sahabat beliau yang mulia. Dia tidak akan pernah bisa melupakan kenangan bersama Rasulullah. Justru dia dengan semangat menjalankan ibadah-ibadah sunnah yang dahulu sering dilakukan Rasulullah, tentu saja di samping ibadah-ibadah yang wajib.

Suatu hari, dia pernah bertanya kepada Aisyah, putrinya, “Wahai, putriku, apakah ada amalan yang sering dilakukan Rasulullah yang belum pernah kulakukan?”

"Ya, ada, Ayah," jawab Aisyah.

"Apa itu?" tanya Abu Bakar lagi dengan penuh rasa penasaran.

Aisyah pun mulai bercerita.

Keesokan harinya, Abu Bakar berniat menunaikan amalan itu. Dia pergi menuju sudut pasar Madinah dengan membawa sebungkus makanan. Kemudian dia berhenti di depan seorang pengemis buta yang tengah sibuk memperingatkan orang-orang untuk menjauhi Muhammad. Betapa hancur hati Abu Bakar menyaksikan aksi pengemis itu yang begitu lancang menghina Rasulullah di hadapan banyak orang. Tapi dia mencoba untuk bersabar.

Abu Bakar lalu membuka bungkusan makanan yang dibawanya dari rumah. Kemudian dia mengajak pengemis itu duduk dan langsung menyuapi pengemis itu dengan tangannya.

"Kau bukan orang yang biasa memberiku makanan," kata si pengemis buta dengan nada menghardik.

"Aku orang yang biasa," kata Abu Bakar.

"Tidak. Kau bukan orang yang biasa ke sini untuk memberiku makanan. Apabila dia yang datang, maka tak susah tangan ini memegang dan tak susah mulutku mengunyah. Dia selalu menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan disuapinya ke mulutku." Begitulah bantahan si pengemis buta.

Abu Bakar tak bisa membendung rasa harunya. Air matanya menetes tak tertahankan. Dia kemudian berkata, “Ya, benar. Aku memang bukan orang yang biasa ke sini untuk memberimu makanan. Aku adalah salah satu sahabatnya. Orang yang dulu biasa ke sini itu telah wafat.”

Abu Bakar melanjutkan perkataannya. “Tahukah kau siapa orang yang dulu biasa ke sini untuk memberimu makanan? Dia adalah Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang selalu kau hina di depan orang banyak.”

Betapa terkejutnya pengemis Yahudi yang buta itu. Dia tak dapat berkata apa-apa. Air matanya perlahan berlinang membasahi kedua pipinya. Dia baru sadar betapa hinanya dirinya yang telah memperlakukan Rasulullah seperti itu. Padahal beliau telah berbaik hati memberinya makanan setiap hari.

"Benarkah itu?" tanya si pengemis buta setelah lama merenungi apa yang telah terjadi. "Selama ini aku telah menghinanya, memfitnahnya, bahkan di hadapannya. Tapi dia tidak pernah memarahiku. Dia sabar menghadapiku dengan berbagai macam ocehanku dan berbaik hati melumatkan makanan yang dibawanya untukku. Dia begitu mulia." Tangisnya semakin menjadi.

Pada saat itu juga, di hadapan Abu Bakar Ash Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu menyatakan ke-Islamannya. Akhirnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat “Asyhadu an la ilaha illallah wa Muhammadar Rasulullah” setelah apa yang telah dilakukannya terhadap Rasulullah.

Semoga Bermanfaat
http://istana99kupu.blogspot.com/

1 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP