Loading...
02 April 2014

Kisah : Antara Sabar Dan Mengeluh


ABU HASAN Pada zaman dahulu ada seseorang yang bernama Abu Hasan yang pergi haji ke Baitul Haram. Di waktu thawaf tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang wajahnya mengeluarkan  cahaya  amat cemerlang.

Demi Allah dan Rasulullah, “belum pernah selama ini aku melihat wajah secantik dan secerah itu, tidak lain pasti dia ini karena tidak pernah risau dan bersedih hati”.

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abu Hasan, lalu ia bertanya “apa katamu hai saudaraku?, Demi Allah, sungguh hati ini sangat terbelenggu oleh perasaan duka cita yang teramat dalam, hatiku teramat sangat pedih, tapi tiada seorang pun yang mengetahui akan hal ini”.

Abu Hasan bertanya , “Apa sebenarnya yang telah menimpamu?”

Wanita itu menjawab, “pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan aku mempunyai dua orang anak yang sudah dapat bermain dan yang satu lagi masih bayi menyusui, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan. Tiba-tiba anakku yang agak besar  berkata kepada adiknya, “Hai adikku, senangkah kamu jika aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing?”
Senang sekali, jawab sang adik. “Baiklah kalau begitu” kata kakaknya

Lalu di suruhlah adiknya untuk berbaring, di sembelihlah leher sang adik. Sang kakak sangat ketakutan karena melihat darah yang muncrat dari leher adiknya, kemudian dia lari ke bukit yang di situ banyak srigalanya dia pun juga meninggal karena menjadi santapan para srigala. Lalu sang ayah mencari putranya itu tetapi sayangnya sang ayah juga meniggal karena kehausan. Pada saat aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suami dan kedua putraku, tiba-tiba sang bayi merangkak menuju periuk yang berisi air panas mendidih, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air yang sangat panas itu ke sekujur badanya, kulit badanya mengelupas, karena sangat parahnya bayiku pun meninggal dunia. Berita ini ahirnya terdengar pula kepada anakku yang telah berumah tangga yang tinggal di daerah lain, dia langsung jatuh pingsan dan ahirnya menemui ajal juga. Kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua”.

Lalu Abu Hasan bertanya, “Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi musibah yang sangat hebat itu?”
Wanita itu menjawab “Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan dia menemukan di antara keduanya jalan yang berbeda, adapun sabar dengan memperbaiki dhohir (nampak), maka hal itu baik dan terpuji. Dan adapun bagi orang yang suka mengeluh, maka orang tersebut tidak mendapat ganti kecuali hanya kesia-sian yang besar.

Demikianlah kisah di atas yang dapat kita jadikan teladan, bahwasanya memiliki sifat sabar sangat di anjurkan oleh Islam, apalagi bagi mereka yang mengaku beriman kepada Allah. Firman Allah didalam Hadist Qudsi :

“Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang beriman, jika Aku  mengambil sesuatu yang di cintainya di dunia kemudian ia bersabar , melainkan surga baginya” (Hadist Qudsi).
Begitu juga mengeluh, hukumnya haram dan  perbuatan ini di kutuk oleh Allah. Karena itu Rasulullah saw  bersabda  :

“Ada tiga macam tanda kekafiran terhadap Allah merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang”.
Dan dalam Hadist lain Beliau Rasulullah saw Juga bersabda :


“Mengeluh termasuk perbuatan Jahiliyah, dan orang yang mengeluh jika dia mati sebelum bertaubat maka Allah akan memotongnya untuk pakain  dari uap api neraka”. (HR. Ibnu Majah). Semoga Allah swt menjadikan kita termasuk  dari golongan orang-orang yang bersabar, Amien.

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

 
TOP